Apakah Gajinya Halal Jika Bekerja Di Luar Negeri Lalu Kabur Dan Bekerja Di Tempat Lain ?

Apakah Gajinya Halal Jika Bekerja Di Luar Negeri Lalu Kabur Dan Bekerja Di Tempat Lain ?

Pertanyaan

بسم اللّه الرحمن الر حيم
السلام عليكم ورحمةالله وبركاته

Kalau kerja diluar negeri lalu kabur itu hukumnya bagaimana ya?
Dan setelah kabur, apakah gaji dari pekerjaan barunya haram?
Bagaimana juga hukumnya kerja pada majikan non muslim? Apakah gajinya halal?
Mohon penjelasannya Ustadz.

جَزَاك اللَّهُ خَيْرًا

(Fulanah, admin BiAS T05)

Jawaban

وعليكم السلام و رحمة الله وبر كاته

Alhamdulillāh
washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in.

Jika seseorang bekerja dan sudah menyetujui MOU atau perjanjian kerja, kemudian ia melarikan diri dengan tanpa alasan yang bisa diterima secara hukum dan syari, maka ia berdosa karena melanggar perjanjian.

Sedangkan pekerjaan barunya, jika memang jenisnya pekerjaan yang halal maka gajinya tetap halal, hanya saja ia menanggung dosa atas pelanggarannya melarikan diri dari majikan pertamanya.

Yang ketiga bekerja pada non muslim sudah pernah kami jawab di sini insyaAllah :

Kebanyakan dalil yang berkaitan dengan imamah/kekuasaan itu hanya berlaku bagi pemimpin di sebuah negara, atau daulah, atau kerajaan atau kekhilafahan. Bukan berlaku bagi pemimpin dalam sebuah komunitas kerja.

Syariat melarang seorang muslim mengangkat orang kafir menjadi penguasa, tapi syariat mengijinkan seorang muslim bekerja pada orang kafir dengan berbagai syarat yang harus dipenuhi. Diantara syarat tersebut adalah yang dinyatakan oleh Syaikh Muhammad bin Ali Al-Firkus sbb :

فالحاصلُ، إذا كان عملُ المسلم عند الكافر يتضمَّن مُداهَنَةً ومَداراةً على حِساب الدِّين، أو كان العملُ في ذاته غيرَ مشروعٍ، وكان المسلم في موضع إذلال وسُخريةٍ واستهزاءٍ فلا يجوز العمل عنده لِما فيه من تعظيم الكافر وتعظيم معصيته، وقد أذلَّه الله وأخزاه، قال تعالى: ﴿حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ﴾ [التوبة: ٢٩]، أمَّا إذا خَلاَ من ذلك فهي معاملةٌ جائزةٌ وإجارةٌ مباحةٌ، ومع ذلك فلا يُسَوِّدُه ولا يبدؤه بالسلام لقوله صَلَّى اللهُ عليه وآله وسَلَّم في شأن المنافق: «لاَ تَقُولُوا لِلْمُنَافِقِ سَيِّدٌ، فَإِنَّهُ إِنْ يَكُ سَيِّدًا فَقَدْ أَسْخَطْتُمْ رَبَّكُمْ عَزَّ وَجَلَّ»

“Kesimpulannya jika jenis pekerjaan seorang muslim kepada orang kafir mengandung sikap menjilat dan basa-basi dalam hal agama, atau jenis pekerjaannya tidak dibolehkan syariat.

Atau orang Islam yang bekerja di sana berada dalam keadaan terhina, diejek, diolok-olok, maka tidak boleh bekerja pada orang kafir karena di dalamnya terdapat unsur mengagungkan orang kafir serta mengagunggkan kemaksiatan yang ia  lakukan.

Padahal Allah ta’ala telah menghinakan dan merendahkan orang kafir, Allah ta’ala berfirman :

“Sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.”
(QS At-Taubah : 29)

Adapun jika pekerjaannya bersih dari hal-hal tersebut di atas, maka ia adalah pekerjaan yang halal, penggajian yang halal. Meski demikian hendaknya orang Islam jangan menuankannya (memanggil tuan/ndoro) terhadap orang kafir dan jangan pula mendahului mengucapkan salam kepadanya, berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam :

“Jangan kalian mengatakan Sayyid/tuan kepada orang munafik . Sesungguhnya jika ia menjadi sayyid maka engkau telah membuat murka Rabb kalian.”
(HR Abu Dawud : 4977 dishaihkan oleh Imam Al-Albani dalam Shahihul Jami’ : 7405).

Sumber fatwa:  (Fatawa Syaikh Al-Firkus no. 308 )

Wallahu a’lam

Dijawab dengan ringkas oleh :

Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله

Kamis, 14 Rabi’ul Akhir 1438 H / 12 Januari 2017 M

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS