Apakah Boleh Meninggalkan Sholat Berjamaah?

Apakah Boleh Meninggalkan Sholat Berjamaah?

Apakah Boleh Meninggalkan Sholat Berjamaah?

Pertanyaan :

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمةالله وبركاته

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla selalu menjaga Ustadz dan keluarga.

Sekarang ini, ana dan suami sedang merawat mertua laki-laki yang sedang sakit. Namun, ketika suami hendak ke mesjid mertua minta ditemani. Usia beliau sudah 76th dan tidak bisa apa-apa, hanya tiduran saja.

Jadi suami kadang hanya bisa shubuh, magrib dan isya saja berjamaah ke Mesjidnya. Bagaimana sikap ana, Ustadz?

جَزَاك الله خَيْرًا

(Disampaikan: Admin BiAS T07 G-15)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Alhamdulillāh, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Aamiin, Jazakillah khoiron atas doanya.

Kondisi seperti ini bukan termasuk darurat. Dan bagi laki-laki memang wajibnya sholat di masjid. Banyak sekali hadits yg melandasi hal ini.

Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ

Siapa yang mendengar seruan (adzan) lalu tidak mendatanginya (datang ke masjid untuk shalat berjamaah) maka tidak ada sholat baginya, kecuali jika ada udzur”.
[HR Ibnu Majah 793]

أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ أَعْمَى ، فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ : إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ ، فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ ، فَرَخَّصَ لَهُ ، فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ ، فَقَالَ : هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ ، قَالَ نَعَمْ . قَالَ فَأَجِبْ

Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam didatangi seorang laki-laki buta. Laki-laki itu berkata, “Wahai Rosululloh, aku tidak memiliki penuntun jalan yang menuntunku ke masjid”.
Laki-laki itu meminta Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam untuk memberinya keringanan sholat di rumah.
Rosululloh pun memberinya keringanan. Namun ketika laki-laki itu hendak berlalu, beliau memanggilnya dan berkata, “Apakah kamu mendengar azan?”
Ia menjawab, “Ya.”
Rosululloh pun bersabda, “Penuhilah!”
[HR Muslim 653]

Adapun dari sisi ketaatan, menaati orangtua untuk hal menyelisihi syari’at adalah sesuatu yang terlarang, apalagi meninggalkan kewajiban.

Rosululloh sholallohu ‘alahi wasallam bersabda:

لاَ طَاعَةَ ( لَبَشَرٍ ) فَيٍ مَعْصِيَةِ اللهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوْفِ

Tiada kewajiban untuk taat kepada seseorang yang memerintahkan untuk maksiat kepada Alloh, kewajiban taat hanya pada hal yang ma’ruf”.
[HR Abu Dawud 2625]

Coba bujuk orangtua baik-baik, juga bisa dengan dialihkan, sampaikan kalau suami juga ingin bertemu dengan jama’ah masjid untuk suatu keperluan. Karena memang secara hakikat perjumpaan di masjid bisa bermakna banyak, bukan hanya mendirikan sholat tapi juga berukhuwah.

Dan sebagai istri juga bisa mengambil peran supaya lebih dekat dengan mertua.

Wallohu A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
👤 Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
📆 Kamis, 25 Jumādā Ūlā 1440 H / 31 Januari 2019 M

CATEGORIES
Share This

COMMENTS