FiqihKonsultasi

Apakah Batal Jika Bertekad Untuk Membatalkan Shalat

Pendaftaran Grup WA Madeenah

Apakah Batal Jika Bertekad Untuk Membatalkan Shalat

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang Apakah Batal Jika Bertekad Untuk Membatalkan Shalat, selamat membaca.


Pertanyaan:

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

1). Saat shalat bayi tiba-tiba nangis keras, biasanya orang tua otomatis ada keinginan untuk membatalkan shalatnya. Batalkah shalatnya setelah ada pikiran ataupun sekedar lintasan seperti ini, ustadz?

2). Apakah berbeda jika niat membatalkan shalat itu bimbang yang ringan atau keinginan yang kuat?

3). Orang yang sering waswas biasanya sering dihinggapi pikiran untuk membatalkan kemudian mengulangi shalatnya karena seringnya ragu pada setiap ibadahnya. Batalkah juga shalatnya dalam kasus ini, ustadz?

4). Ada pendapat yang mengatakan shalat tidak batal karena ragu datang setelah niat yang yakin. Berdasarkan ibnu mas’ud yang bercerita tentang pernah berkeinginan membatalkan shalat saat shalat bersama Rasulullah ﷺ. Juga Anas bin Malik yang bercerita saat Rasulullah ﷺ sedang sakit dan beliau muncul membuka gorden, para sahabat sempat berkeinginan untuk membatalkan shalatnya karena bahagia melihat beliau. Bagaimana pandangan ustadz dalam hal ini?

جزاك اللهُ خيراً

Jawaban:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

Jika seseorang ketika sholat berkeinginan kuat untuk membatalkan sholatnya, maka sholatnya batal.
Imam Syafi’i dalam kitabnya Al Umm berkata : “Jika ada seseorang masuk kedalam sholatnya dengan niat untuk sholat tersebut, kemudian dia mengubah niatnya ke sholat yang lain atau mengubah niatnya untuk keluar dari sholat (membatalkan sholat) dan dia melakukan hal itu sebelum keluar dari sholatnya, kemudian dia kembali ke niat yang pertama, maka sholatnya batal. Disaat niatnya berubah, maka disaat itu juga sholatnya batal. Dan dia harus mengulanginya”.

Adapun jika dia masih bimbang “apakah aku batalkan sholatku atau tidak?” maka dalam hal ini para ulama berbeda pendapat,

1.Batal sholatnya.
Al Buhuty dalam kitabnya kasysyaful qona’ berkata : “Jika dia memutus niatnya dalam sholatnya, maka batal sholatnya. Karena niat adalah syarat dalam seluruhnya. Ketika dia memutus niatnya maka seolah-olah dia berniat untuk keluar dari sholatnya atau bertekat untuk hal tersebut, maka sholatnya batal. Karena niat adalah tekad yang mutlak kokoh. Dan jika ada tekat untuk memutusnya maka tidak ada niat. Atau ada keraguan (untuk membatalkannya) didalamnya, maka sholatnya batal. Karena berlanjutnya niat merupakan syarat sahnya. Dan jika ada keraguaan, maka batal lah keberlanjutan niat tersebut”.

2.Tidak batal.
Syeikh bin Utsaimin berkata : “Barangsiapa yang bertekad untuk memutus suatu ibadah, maka ibadahnya batal. Akan tetapi jika hanya perasaan (contoh :apakah saya batalkan sholatnya atau tidak?) maka ibadahnya tidak batal.”

Adapun hadits Ibnu Mas’ud,

صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ، فَلَمْ يَزَلْ قَائِمًا، حَتَّى هَمَمْتُ بِأَمْرٍ سُوءٍ، قُلْنَا: وَمَا هَمَمْتَ بِهِ؟ قَالَ: هَمَمْتُ أَنْ أَجْلِسَ وَأَدَعَهُ

“Aku pernah shalat tahajud bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di suatu malam. Beliau berdirinya sangat lama, sampai saya punya keinginan buruk. Kami bertanya: “Apa yang kamu inginkan?”. Jawab Ibnu Mas’ud, “Saya berkeinginan untuk duduk, dan meninggalkan beliau.” (HR. Ahmad 3646 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).
Dan hadits Anas

أَنَّ أَبَا بَكْرٍ كَانَ يُصَلِّى لَهُمْ فِى وَجَعِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – الَّذِى تُوُفِّىَ فِيهِ ، حَتَّى إِذَا كَانَ يَوْمُ الاِثْنَيْنِ وَهُمْ صُفُوفٌ فِى الصَّلاَةِ ، فَكَشَفَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – سِتْرَ الْحُجْرَةِ يَنْظُرُ إِلَيْنَا ، وَهْوَ قَائِمٌ كَأَنَّ وَجْهَهُ وَرَقَةُ مُصْحَفٍ ، ثُمَّ تَبَسَّمَ يَضْحَكُ ، فَهَمَمْنَا أَنْ نَفْتَتِنَ مِنَ الْفَرَحِ بِرُؤْيَةِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم –

“Bahwa Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu pernah mengimami ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang sakit menjelang wafat beliau. Hingga pada hari Senin, para sahabat bersiap di shaf shalat, tiba-tiba Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka korden, dan melihat kami. Beliau berdiri seolah wajah beliau lembaran mushaf. Beliau tersenyum lebar. Kami berkeinginan untuk membatalkan shalat kami karena bahagia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”. (HR. Bukhari 680).

Kedua hadits tersebut dijadikan dalil bagi kelompok kedua untuk menguatkan pendapatnya. Adapun kelompok pertama memiliki tafsiran lain untuk dua hadits tersebut.

Dengan melihat dzohir dari hadits-hadits tersebut, maka menurut ana pendapat yang kedua adalah pendapat yang lebih kuat. Wallahu a’lam bishshowab.

Dalam hal ini maka alangkah baiknya jika kita berhati-hati dalam masalah niat. Kerena menghindari hal yang diperselisihkan ulama, lebih utama jika kita mampu. Jangan pernah berniat untuk membatalkan sholat. Meskipun kita ragu apakah sholat kita batal atau tidak?. Lanjutkan saja sholatnya. Jangan menengok kepada hal tersebut. Kerena keraguan atau waswas datang dari bisikan setan dan hal itu tidak membatalkan sholat.

Dan perlu diperhatikan juga perbedaan antara waswas dan tekad.
“apakah aku batalkan sholatku atau tidak?” meskipun perkataan ini dalam keadaan bimbang, tapi ini termasuk dalam tekad atau keinginan.
“apakah sholatku batal atau tidak?” ini termasuk waswas atau ragu.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh: 
Ustadz Achmad Nur Hanafi, Lc. حافظه الله

Related Articles

Back to top button