FiqihKonsultasi

Apakah Anjing Najis Secara Keseluruhan

Pendaftaran Grup WA Madeenah

Apakah Anjing Najis Secara Keseluruhan

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang Hukum Anjing Najis Secara Keseluruhan, selamat membaca.


Pertanyaan:

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Afwan izin bertanya terkait najis anjing. Yang diperintahkan untuk mensucikan diri 7x (1x air dicampur tanah dan 6x air) mencakup semua najis anjing yaitu air liur, air seni dan kotoran? Ataukah hanya air liur saja yang diperintah disucikan dengan 7x? Dan kotorannya cukup air saja atau tanah?

جزاك اللهُ خيراً

Jawaban:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

Dalam hal ini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : “Adapun anjing, maka para ulama terbagi menjadi 3 pendapat :

1.Anjing itu suci bahkan air liurnya suci. Ini adalah pendapat madzhab Malik.
2.Anjing itu najis sampai bulunya juga. Ini adalah pendapat madzhab Syafi’i dan salah satu pendapat imam Ahmad.
3.Bulunya suci dan air liurnya najis. Ini adalah pendapat madzhab Abu Hanifah dan salah satu pendapat imam Ahmad. Dan ini adalah pendapat yang paling shohih. Jika bulu basah anjing mengenai baju atau badan, maka tidak menajiskannya.”

Dalam tempat lain beliau berkata : “Hukum asal dari sesuatu adalah suci. Maka tidak boleh menajiskan sesuatu atau mengharamkan sesuatu kecuali dengan dalil”.

Allah berfirman :

وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ

“Padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya”. (QS. Al An’am :119)

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِلَّ قَوْمًا بَعْدَ إِذْ هَدَاهُمْ حَتَّىٰ يُبَيِّنَ لَهُمْ مَا يَتَّقُونَ

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka sehingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi”. (QS. At Taubah :115)

Jika perkaranya seperti yang Allah jelaskan di ayat tersebut (bahwa Allah telah memberikan rincian syariat-Nya), Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

طُهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولاَهُنَّ بِالتُّرَابِ

“Sucinya bejana di antara kalian yaitu apabila anjing menjilatnya adalah dengan dicuci tujuh kali dan awalnya dengan tanah.” (HR. Muslim no. 279)

Dan dihadits lain :

إِذَا وَلَغَ الْكَلْبُ

“Apabila anjing menjilat (bejana).” (HR. Muslim no. 279)

Seluruh hadits yang menerangkan (kenajisan anjing) hanya menyebutkan air liurnya saja dan tidak menyebutkan seluruh bagian anjing. Maka penajisan anjing (selain air liurnya) hanya dari mengqiyaskannya (dengan air liurnya).
Dan juga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keringanan untuk memelihara anjing pemburu, anjing penjaga ternak dan anjing penjaga ladang.

Dan bagi orang yang memliharanya pasti terkena bulu anjing yang basah sebagaimana bagal (anakan kuda dan keledai), keledai atau yang lainnya pasti yang memilikinya pernah terkena bulu basahnya. Maka pendapat tentang kenajisan bulu anjing dan keadaan yang seperti ini, termasuk dari kesukaran yang dimaafkan dari umat ini.

Kesimpulannya : pendapat yang rajih menurut ana adalah pendapat ketiga yang menyebutkan bahwa air liurnya saja yang najis. Kerena seluruh hadits hanya menjelaskan air liurnya saja. Padahal orang memelihara anjing pasti sering menyentuh bulu anjingnya. Meskipun demikian syariat hanya menjelaskan air liurnya saja.

Adapun jika menyentuh bulu anjing yang basah, maka lebih baik untuk mencucinya 7 kali. Karena ditakutkan basahnya tersebut berasal dari air liurnya atau jilatan anjingnya.

Adapun kotorannya dan air kencingnya, maka najisnya seperti kotoran biasa, cukup dengan air atau sesuatu yang bisa menghilangkannya. Sehingga tidak perlu mencucinya 7 kali seperti air liurnya.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh: 
Ustadz Achmad Nur Hanafi, Lc. حافظه الله

Related Articles

Back to top button