Fiqih

Apa Itu Cairan Madzi? Berikut Penjelasannya

Pendaftaran Grup WA Madeenah

Apa Itu Cairan Madzi? Berikut Penjelasannya

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan pembahasan tentang apa itu cairan madzi? Berikut penjelasannya. Selamat membaca.

Pertanyaan:

Bismillah. Assalamualaikum warahmatullah wabarokatuh. Afwan ustadz ada banyak pertanyaan.

1. Ana kurang paham/yakin tentang penjelasan madzi?

2. Misal ana melihat perempuan atau ngobrol/chat dengan perempuan tetapi ana sebisa mungkin agar tidak keluar syahwat. Tetapi terkadang dengan sendirinya keluar cairan ustadz, nah apakah cairan tersebut bisa dibilang madzi atau apa ustadz?

3. Terkadang ana ragu jadi agar tidak was-was ana biasanya mandi wajib/besar. Lalu hukum mandi besar tersebut bagaimana tadz apabila cairan tersebut adalah madzi?

4. Terus jika ana mandi wajib dikarenakan keluar madzi tersebut apabila mandi ana kurang sempurna, misal: ada bagian yang tidak terkena air. Apakah mandi tersebut terhitung mandi wajib atau mandi biasa? Lalu hukumnya bila sholat itu apa ustadz misal mandinya tidak sempurna apakah tetap sah atau bagaimana?

5. Apakah mandi wajib tetap sah apabila hanya niat lalu langsung mandi, tanpa wudhu tanpa membasahi kulit rambut terlebih dahulu?

Afwan ustad pertanyaannya terlalu panjang, semoga bisa dipahami pertanyaan ana yang masih awam. Jazaakallahu khairan atas jawaban nantinya ustadz. Wassalamualaikum warahmatullah wabarokatuh.

(Ditanyakan oleh Santri Kuliah Islam Online Mahad BIAS)


Jawaban:

Waalaikumsalam warahmatullah wabarokatuh.

Apa Itu Madzi?

Perlu dilihat kembali pengertian dari madzi, bahwa ia adalah cairan yang keluar dari jalan syahwat yang muncul, sehingga melahirkan ereksi. Bila cairan tersebut muncul setelah hal tersebut maka itu disebut dengan madzi.

Apakah madzi itu najis dan membatalkan wudhu?

Ya, madzi najis dan membatalkan wudhu. Sebagaimana beberapa dalil berikut tentang najisnya madzi dan harus dibersihkan/dicuci:

Hukumnya madzi adalah najis dan membatalkan wudhu’, dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan dari Ali –radhiyallahu ‘anhu– berkata:

كُنْتُ رَجُلًا مَذَّاءً فَجَعَلْتُ أَغْتَسِلُ حَتَّى تَشَقَّقَ ظَهْرِي فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ ذُكِرَ لَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( لَا تَفْعَلْ ، إِذَا رَأَيْتَ الْمَذْيَ فَاغْسِلْ ذَكَرَكَ وَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ ) رواه أبو داود (206)، وصححه الشيخ الألباني رحمه الله .

Saya adalah seorang yang sering mengeluarkan madzi, maka saya bersuci dengan mandi besar sampai punggungku seakan menjadi pecah, maka saya menyampaikan hal itu kepada Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- atau telah diberitakan oleh orang lain, maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Janganlah kau lakukan !, jika kamu melihat madzi maka cucilah kemaluanmu dan berwudhu’lah dengan wudhu’ yang sama dengan wudhu’nya shalat”. (HR. Abu DaudL 206 dan dishahihkan oleh Albani –rahimahullah-)

Sebagaimana hadits lain yang diriwayatkan oleh Sahal bin Hunaif berkata: “Saya telah sangat menjauhkan diri saya dengan madzi dengan memperbanyak mandi besar, maka saya menyampaikan hal itu kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan menanyakannya kepada beliau, maka beliau bersabda:

( إِنَّمَا يُجْزِئُكَ مِنْ ذَلِكَ الْوُضُوءُ ) فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، كَيْفَ بِمَا يُصِيبُ ثَوْبِي مِنْهُ ؟ قَالَ : ( يَكْفِيكَ أَنْ تَأْخُذَ كَفًّا مِنْ مَاءٍ فَتَنْضَحَ بِهِ ثَوْبَكَ حَيْثُ تَرَى أَنَّهُ أَصَابَ مِنْهُ

Sebenarnya sudah cukup dengan wudhu’ saja”, maka saya berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana jika madzi tersebut mengenai pakaianku ?”. Beliau menjawab: “Cukup bagimu dengan mengambil air satu telapak tangan kemudian menyiramkannya kepada pakaianmu sampai kamu melihat bekas air telah membasahinya”. (HR. Abu Daud: 210 dan Tirmidzi: 115 dan dihasankan oleh Albani dalam Shahih Abu Daud)

Para ulama menjadikan hadits ini sebagai dalil akan najisnya madzi, bisa dibaca pada Fathul Baari karya Ibnu Hajar (1/381), Umdatul Qaari Syarah Shahih Al Bukhori (3/220), Subulus Salam (1/93), Al Majmu’ karya Imam Nawawi (2/164).

Pengambilan dalil dari hadits tersebut sangatlah jelas; karena Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah menyuruhnya untuk mencuci kemaluannya dan menyiramkan air pada pakaian yang terkena madzi tersebut. Inilah yang menjadi dalil bahwa madzi itu adalah najis.

Para ulama telah melakukan konsensus akan najisnya madzi.

Imam Nawawi –rahimahullah- berkata dalam Al Majmu’ (2/571):

“Ummat telah melakukan konsensus/ijma bahwa madzi adalah najis”

(Lihat islamqo: https://islamqa.info/id/answers/246483)

Apakah keluar madzi menyebabkan wajib untuk mandi?

Tidak wajib mandi, karena keluarnya madzi tidak mewajbkan mandi sebagaimana hadist di atas, bahwa nabi menyuruh untuk mencuci tempat yang dianggap terkena madzi dan tidak menyuruh sahabat tersebut mandi.

Terkecuali setelahnya keluar madzi dibarengi dengan keluarnya mani, itulah yang disebut dengan junub karena keluarnya mani. Maka bila keluar mani dengan cara apapun maka ia wajib mandi.

Sebagaimana firman Allah ta`ala:

وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَٱطَّهَّرُوا۟

Dan jika kamu junub, mandilah.” (QS. Al-Maidah: 6)

Cukup bagi kita, untuk membersihkan madzi/najis tersebut dengan mencuci tempat yang sekiranya terkena madzi, baik di kulit atau di celana kita.

Terkait dengan tata cara mandi junub sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa riwayat, di antaranya apa yang disebutkan di dalam riwayat ini:

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا اِغْتَسَلَ مِنْ اَلْجَنَابَةِ يَبْدَأُ فَيَغْسِلُ يَدَيْهِ, ثُمَّ يُفْرِغُ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ, فَيَغْسِلُ فَرْجَهُ, ثُمَّ يَتَوَضَّأُ, ثُمَّ يَأْخُذُ اَلْمَاءَ, فَيُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي أُصُولِ اَلشَّعْرِ, ثُمَّ حَفَنَ عَلَى رَأْسِهِ ثَلَاثَ حَفَنَاتٍ, ثُمَّ أَفَاضَ عَلَى سَائِرِ جَسَدِهِ, ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِمُسْلِم ٍ

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi junub (mandi karena keluar mani atau hubungan intim, pen.), beliau memulai dengan mencuci kedua telapak tangannya, kemudian menuangkan air pada kedua telapak tangan. Lalu beliau mencuci kemaluannya. Selanjutnya, beliau berwudhu. Lantas beliau mengambil air, lalu menyela-nyelai pangkal rambut dengan jari-jarinya. Kemudian beliau menyiramkan air di kepala dengan mencedok tiga kali (dengan kedua telapak tangan penuh, pen.). Lalu beliau menuangkan air pada anggota badan yang lain. Kemudian, beliau mencuci kedua telapak kakinya. (Muttafaqun ‘alaih. Lafazhnya dari Muslim) [HR. Bukhari, no. 248 dan Muslim, no. 316]

Yang terpenting dari mandi janabah adalah adanya niat didalam hatinya untuk membersihkan hadast besar dan air mengenai seluruh bagian tubuhnya secara merata dari ujung rambut sampai ujung kaki. Itulah syarat mandi junub: niat dan meratakan air di seluruh tubuhnya.

Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang menceritakan tata cara mandi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جَسَدِهِ كُلِّهِ

Kemudian beliau mengguyur air pada seluruh badannya.” (HR. An Nasa-i, no. 247. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan,

هَذَا التَّأْكِيد يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ عَمَّمَ جَمِيع جَسَدِهِ بِالْغُسْلِ

Penguatan makna dalam hadits ini menunjukkan bahwa ketika mandi beliau mengguyur air ke seluruh tubuh.” (Fath Al-Bari, 1: 361)

Semisal, bila kita niat untuk mandi besar dengan masuk ke dalam sungai, kemudian air membasahi semua tubuh ketika maka sudah mencukupi syarat sahnya mandi jinabah, walaupun beberapa amalan sunnah tidak dikerjakan.

Wallahu a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله

Kamis, 14 Jumadil Awal 1444H / 8 Desember 2022 M 


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik di sini

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button