Anak Perempuan Adalah Bagian Dari Ayahnya

Anak Perempuan Adalah Bagian Dari Ayahnya

ANAK PEREMPUAN ADALAH BAGIAN DARI AYAHNYA

Allah berfirman:

وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى

Dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. (QS. Ali Imran : 36)

Mulai saat ini berhentilah menganggap sama antara anak laki-laki dan perempuan. Allah dengan tegas mengatakan ketidaksamaan antara laki-laki dan perempuan. Dengan berbagai macam perbedaan yang ada pada diri laki-laki dan perempuan agar satu dan lainnya saling mengisi dan melengkapi. Namun keduanya memiliki kesamaan dan kesempatan dalam melakukan amalan kebaikan.

Syaikh Abdul Mun’im Ibrahim dalam kitabnya Tarbiyatul Banaat fil Islam mengatakan salah satu cara orang tua memenuhi kebutuhan emosional anak perempuan adalah seperti yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah. Yaitu memberikan keyakinan kepada anak perempuan bahwa dirinya adalah bagian dari sang ayah. Ketika si anak marah karena sesuatu yang benar, maka sang ayah juga akan mendukungnya, jika si anak bahagia, maka sang ayah juga akan merasa bahagia, jika si anak sedih, maka sang ayah juga akan ikut bersedih.

Islam sangat memahami psikologi manusia dengan sempurna, bahkan sebelum ilmu psikologi itu muncul, islam telah menjelaskan dengan sempurna. Sehingga tidak ada yang luput dari agama yang hak ini. Oleh karenanya sebelum mempelajari ilmu psikologi atau ilmu dunia apapun pelajarilah dahulu ilmu agama, sehingga dengannya akan nampak jelas mana yang hak dan yang batil, mana yang lurus dan yang menyimpang.

Dari Miswar bin Makhramah, ia berkata “Pernah Ali bin Abi Thalib berniat meminang putri Abu Jahal, lalu Fatimah mendengar kabar tersebut, lalu ia datang kepada sang ayah, untuk melaporkan hal tersebut, ia berkata kepada Rasulullah: “Orang-orang mengira bahwa Engkau tidak akan marah demi putri-putrimu dikarenakan Ali ingin menikahi putri Abu Jahal.” Mendengar pengaduan dari putrinya tersebut, beliau lalu berdiri, lalu bersabda:

أَمَّا بَعْدُ، أَنْكَحْتُ أَبَا الْعَاصِ بْنَ الرَّبِيعِ، فَحَدَّثَنِي، وَصَدَقَنِي، وَإِنَّ فَاطِمَةَ بَضْعَةٌ مِنِّي، وَإِنِّي أَكْرَهُ أَنْ يَسُوءَهَا، وَاللَّهِ لَا تَجْتَمِعُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبِنْتُ عَدُوِّ اللَّهِ عِنْدَ رَجُلٍ وَاحِدٍ. فَتَرَكَ عَلِيٌّ الْخِطْبَةَ

“Amma Ba’du, Aku telah menikahkan Abul Ash bin Rabi’, ia mengatakan sesuatu kepadaku dan ia memenuhi apa yang ia katakan kepadaku. Sesungguhnya Fatimah adalah bagian dariku, dan aku tidak suka seseorang menyakitinya. Demi Allah, tidak akan berkumpul Putri Rasulullah dengan putri musuh Allah di bawah naungan satu laki-laki.” Lalu Ali bin Abi Thalib membatalkan pinangan tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 3729 dan Muslim 2449)

Perhatikan sabda Nabi “Sesungguhnya Fatimah adalah bagian dariku, dan aku tidak suka seseorang menyakitinya”, Fatimah memiliki kedudukan di hati sang Ayah (Rasulullah), kesedihannya adalah kesedihan ayahnya, dan kebahagiaannya adalah kebahagiaan ayahnya. Hal yang terpenting yang harus diperhatikan sang ayah terhadap putrinya adalah memenuhi kebutuhan emosionalnya dengan cara mencurahkan kasih sayang dan perhatian kepadanya, agar dirinya tidak merasa kebutuhan yang satu ini tidak terpenuhi.

Ini menjadi unsur utama dalam mendidik anak, terutama anak perempuan, karena sensitivitas dan sentimental memang sudah menjadi tabiat anak perempuan. Hal ini telah ditegaskan oleh Nabi lewat praktik nyata ketika beliau mendidik dan mengasuh putrinya.

Dalam riwayat lain Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan, “Aku tidak melihat seseorang yang lebih mirip dengan Rasulullah dalam hal cara bicara dari pada Fatimah. Dahulu, ketika menemui Rasulullah maka beliau langsung berdiri dan menyambutnya, menciumnya dan mendudukkannya di tempat duduk beliau. Begitu juga ketika Rasulullah mendatangi Fatimah, ia langsung berdiri menyambut beliau dan memegang tangan beliau lalu ia mendudukkannya di tempat duduknya. Ketika Rasulullah sedang sakit keras, Fatimah mendatangi beliau, lalu beliau menyambutnya dan menciumnya.” (HR. Al-Bukhari)

Syaikh Abdul Mun’im Ibrahim mengomentari hadits di atas, beliau berkata, “Unsur yang satu ini memiliki dampak sangat besar terhadap perilaku anak perempuan. Hal ini juga memiliki berbagai manfaat baik untuk saat sekarang ataupun di masa yang akan datang, di antaranya sebagai berikut:

1. Sang ayah akan memiliki tempat tersendiri di dalam hati sang anak, sehingga akan dengan mudah dipengaruhi oleh orang tua. Dengan senang hati anak akan mentaati orang tua dan sekaligus menjadikannya sebagai panutan. Sehingga di samping ibunya, sang ayah bisa menjadi sumber bagi si anak ketika ingin meminta nasihat dan pengarahan.

Hal ini sangat jelas di dalam hadits Aisyah di atas, yaitu menceritakan bahwa tidak ada seseorang yang lebih mirip dengan Rasulullah di dalam cara berbicara dari pada Fatimah. Hadits di atas juga sekaligus menjelaskan factor yang menjadikan Fatimah paling mirip dengan Nabi, yaitu karena Rasulullah memberikan perhatian dan kasih sayang secara khusus kepada Fatimah. Beliau memenuhi hatinya dengan cinta kasih dan perhatian yang sangat besar, itu semua tercermin dari akhlak Nabi.

Hasil lain dari cara Nabi mengasuh dan mendidik Fatimah seperti itu adalah terpengaruhnya Fatimah oleh ayahnya sehingga ayahnya menjadi panutan satu-satunya bagi Fatimah. Tentunya semua ini bukan saja karena ayahnya adalah utusan Allah yang harus dijadikan panutan, akan tetapi disebabkan beliau adalah sosok ayah yang sangat menyayangi dan memperhatikan anaknya serta memenuhi kehidupannya dengan cinta dan kasih sayang.

2. Perhatian dan kasih sayang orang tua yang besar terhadap anak perempuan akan menjadikan si anak tidak ingin mencari kasih sayang dari pihak lain. Karena anak perempuan membutuhkan perhatian, cinta dan kasih sayang yang lebih dibandingkan anak laki-laki, jika ia tidak mendapatkan dari orang tuanya terutama ayahnya, maka besar kemungkinan ia akan mencarinya dari pihak lain. Dan hal ini tentunya sangat membahayakan bagi diri si anak.

3. Jika orang tua tidak memenuhi kebutuhan emosional anak perempuan, maka hal ini menyebabkan si anak akan mengeluh karena merasa tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang sangat ia butuhkan, sehingga ia akan mencari seseorang yang mampu menampung keluhannya tersebut dan mampu memenuhi kebutuhan emosional yang tidak ia dapatkan. Sehingga di mata sang anak, seorang ayah yang mampu memberikan apa yang ia butuhkan tersebut berubah menjadi sang idola di dalam kehidupannya. Ketika hal itu terjadi maka kita sudah tahu bencana apa yang akan terjadi. Mungkin hal ini yang menjadi rahasia dibalik sabda Nabi yang mengaitkan antara banyaknya keluhan yang dilakukan oleh kaum wanita dan penghuni neraka yang kebanyakan dari wanita.

Mari kita belajar menjadi seorang ayah, seperti Nabi menjadi seorang ayah. Di tengah kesibukan Nabi seorang Rasul, komandan di medan perang, imam dalam shalat, guru bagi umat dan panutan bagi keluarganya, Nabi mampu melahirkan generasi terbaik umat ini. Adakah yang lebih sibuk melebihi kesibukan Nabi?

Ditulis Oleh:
Ustadz Abu Rufaydah, Lc., MA. حفظه الله
(Kontributor Bimbinganislam.com)

 

 



Ustadz Abu Rufaydah, Lc., MA. حفظه الله
Beliau adalah Pengasuh Yayasan Ibnu Unib Cianjur dan website cianjurkotasantri.com
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abu Rufaydah, Lc., MA.حفظه الله  
klik disini

 

CATEGORIES
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )