Allah Memberi Petunjuk Kepada Siapa Yang Dikehendaki

Allah Memberi Petunjuk Kepada Siapa Yang Dikehendaki

Allah Memberi Petunjuk Kepada Siapa Yang Dikehendaki

Pertanyaan:

بسم الله الرحمن الر حيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, ada seorang teman yang bertanya katanya dia merasa kalau Allāh itu sudah memilih dari awal siapa orang – orang yang akan beruntung (diberikan rahmat) dan siapa orang – orang yang tidak beruntung (tidak diberikan Rahmat). Karena banyak dalam Al-Qur’an di sebutkan jika Allāh menghendaki dia, maka akan diberi petunjuk. Apakah itu benar?

Dia juga bertanya maksud dari hadits dibawah ini? Apakah orang yang dipilih itu telah ditentukan seperti apa kriterianya?

Disebutkan dalam hadits yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan lainnya [1] , bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 ﺇﺫﺍ ﺃﺭﺍﺩ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻌﺒﺪ ﺧﻴﺮﺍ ﺍﺳﺘﻌﻤﻠﻪ ﻗﻴﻞ : ﻣﺎ ﻳﺴﺘﻌﻤﻠﻪ ؟ ﻗﺎﻝ : يفتح ﻟﻪ ﻋﻤﻼ ﺻﺎﻟﺤﺎ ﺑﻴﻦ ﻳﺪﻱ ﻣﻮﺗﻪ ﺣﺘﻰ ﻳﺮﺿﻲ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﻦ ﺣﻮﻟﻪ

“Apabila Allāh menginginkan kebaikan kepada seorang hamba, Allāh jadikan ia beramal”. Lalu para sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dijadikan dia beramal?” Maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Dibukakan untuknya amalan shalih sebelum meninggalnya, sehingga orang – orang yang berada di sekitarnya ridha kepadanya.”

جَزَاكَ الله خَيْرًا

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ditanyakan oleh Sahabat BiAST08 G-01


Jawaban:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ الله وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ الله

Alhamdulillāhi rabbil ālamīn

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi waman tabi’ahum bi ihsānin Ilā yaumil Qiyāmah. Amma ba’du

Afwan Wajazākallāh  khairan katsiran atas pertanyaan dan do’a yang antum sampaikan, dan kita memohon taufiq serta pertolongan kepada Allah.

Benar sekali, Allāh telah menetapkan siapa yang akan menjadi penduduk surga dan neraka, Allāh pun saat ini tahu, kita akan masuk surga atau neraka, karena keilmuan Allāh yang sangat luas dan tidak ada tandingan atau yang semisal dengannya.

Misalkan ada seorang guru kelas 6 SD, dia selama setahun mengajar kelas tersebut, selama itu dia tahu mana saja murid-murid yang cerdas, bodoh, sedang-sedang saja, yang jika diberi soal jenis A, atau B atau C atau jenis lainnya, murid pertama akan lulus, murid kedua tidak akan lulus, murid ketiga akan lulus dengan nilai yang sedang-sedang saja dan sebagainya.

Jika dalam hal dunia, ada seseorang yang bisa memprediksi seperti ini, maka Allāh dengan ilmunya yang luas, bukan hanya bisa memprediksi, tapi Allāh tahu dengan pasti siapa saja hambanya yang akan masuk surga dan siapa hambanya yang akan menjadi penghuni neraka, karena Allah lah yang telah menciptakan mereka.

Namun karena kita tidak tahu, kita akan menjadi penduduk surga atau penduduk neraka, maka yang wajib bagi kita dalam menjalankan peran kita sebagai hamba di dunia ini adalah beramal dengan baik. Jika kita ingin menjadi penduduk surga, mari kita pilih jalan menuju surga, bagi yang ingin masuk neraka, silahkan tempuh jalan menuju neraka.

Jika Allāh menghendaki kebaikan kepada kita, Allāh akan mudahkan jalannya, (semoga Allāh masukan kita pada golongan ini). Namun jika Allāh tidak menghendaki kebaikan kepada kita, pasti Allāh akan buat kita jauh dari agama, (kepada Allāh kita berlindung).

Thalabul ilmi (mencari ilmu) misalkan merupakan jalan untuk menuju surga.

من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له به طريقا إلى الجنة

Siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, Allāh akan mudahkan baginya jalan menuju surga.
Jadi siapa yang dimudahkan thalabul ilmu (menuntut ilmu) berarti Allāh telah mudahkan kepadanya jalan menuju surga.

Jadi selama kita masih hidup didunia ini kita tidak tahu, apakah kita penduduk surga atau penduduk neraka, Tapi Allāh telah memberikan jalannya, dan petunjuknya, yaitu dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah,

Siapa yang mengikuti keduanya maka ia berhak untuk mendapatkan hidayah, petunjuk dan pertolongan Allāh untuk menuju surga, dan siapa yang tidak mengikuti keduanya mungkin dia adalah salah satu penduduk neraka, wal’iyaadzu billah.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda :

عَنْ عَلِيٍّ، قَالَ: كُنَّا فِي جَنَازَةٍ فِي بَقِيعِ الْغَرْقَدِ، فَأَتَانَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَعَدَ وَقَعَدْنَا حَوْلَهُ، وَمَعَهُ مِخْصَرَةٌ فَنَكَّسَ فَجَعَلَ يَنْكُتُ بِمِخْصَرَتِهِ، ثُمَّ قَالَ: مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ، مَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوسَةٍ، إِلَّا وَقَدْ كَتَبَ اللهُ مَكَانَهَا مِنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، وَإِلَّا وَقَدْ كُتِبَتْ شَقِيَّةً أَوْ سَعِيدَةً» قَالَ فَقَالَ رَجَلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ أَفَلَا نَمْكُثُ عَلَى كِتَابِنَا، وَنَدَعُ الْعَمَلَ؟ فَقَالَ: «مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ، فَسَيَصِيرُ إِلَى عَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ، فَسَيَصِيرُ إِلَى عَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ» فَقَالَ: «اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ، أَمَّا أَهْلُ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ، وَأَمَّا أَهْلُ الشَّقَاوَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ»، ثُمَّ قَرَأَ: {فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى، وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى، فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى، وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى، وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى} [الليل: 6]

Adab Para Sahabat Dengan Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Dari ‘Ali dia berkata ; “Kami pernah menguburkan jenazah di pemakaman Baqi Al Gharqad. Tak lama kemudian, Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam datang kepada kami. Lalu beliau duduk dan kami pun duduk mengelilingi beliau.

Kabar Dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam.  Setelah itu Rasulullah memegang sebuah batang kayu pendek dan beliau menggaris-gariskan dan memukul-mukulkannya diatas tanah seraya berkata: ‘Tidaklah seseorang diciptakan melainkan Allāh telah menentukan tempatnya di surga ataupun di neraka, serta ditentukan pula sengsaranya atau bahagianya.’

Kenapa Kita Tidak Berserah Diri Saja? Ali bin Abu Thalib berkata ; ‘Kemudian seseorang bertanya ; ‘Ya Rasūlullāh , kalau begitu apakah sebaiknya kami berdiam diri saja tanpa harus berbuat apa-apa? ‘

Petunjuk Dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam Untuk Tetap Beramal. Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam menjawab : ‘Barang siapa termasuk dalam golongan orang-orang yang beruntung, maka ia pasti akan mengerjakan amal perbuatan orang-orang yang beruntung. Sebaliknya barang siapa termasuk dalam golongan orang-orang yang sengsara, maka ia pasti akan mengerjakan amal perbuatan orang-orang yang sengsara.’

Masing-Masing Dipermudah Sesuai Takdirnya Selanjutnya Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Berbuatlah! Karena masing-masing telah dipermudah untuk berbuat sesuai dengan ketentuan sengsara dan bahagianya. Orang yang termasuk dalam golongan orang-orang yang berbahagia akan dimudahkan untuk mengerjakan amal perbuatan orang-orang yang beruntung. Dan orang yang termasuk dalam golongan orang-orang yang sengsara akan dimudahkan untuk mengerjakan amal perbuatan orang-orang yang sengsara.’

Dalil Dari Al-Qur’an. Setelah itu Rasūlullāh pun membacakan ayat Al Qur’an : “Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allāh dan bertakwa serta membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Adapun orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan adanya pahala yang terbaik, maka Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar.” (Qs. A1-LaiI (92): 5-10)
(HR. Al-Bukhari dan Muslim, Dan lafaldz ini adalah lafaldz imam Muslim dengan No. 2647)

Kemudian Hadits yang ditanyakan dengan lafaldz :

 ﺇﺫﺍ ﺃﺭﺍﺩ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻌﺒﺪ ﺧﻴﺮﺍ ﺍﺳﺘﻌﻤﻠﻪ ﻗﻴﻞ : ﻣﺎ ﻳﺴﺘﻌﻤﻠﻪ ؟ ﻗﺎﻝ : يفتح ﻟﻪ ﻋﻤﻼ ﺻﺎﻟﺤﺎ ﺑﻴﻦ ﻳﺪﻱ ﻣﻮﺗﻪ ﺣﺘﻰ ﻳﺮﺿﻲ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﻦ ﺣﻮﻟﻪ

“Apabila Allāh menginginkan kebaikan kepada seorang hamba, Allāh jadikan ia beramal.” Lalu para sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dijadikan dia beramal?” Maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Dibukakan untuknya amalan shalih sebelum meninggalnya sehingga orang-orang yang berada di sekitarnya ridha kepadanya.”

Hadits dengan lafadz seperti ini merupakan hadits riwayat Imam Ahmad dengan no 21.949 dan diriwayatkan oleh yang lainnya, seperti Imam Tirmidzi dengan lafadz yang mirip dan untuk yang riwayat At-Tirmidzi dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dan yang riwayat Imam Ahmad dinyatakan shahih oleh pentahqiq Musnad Ahmad.

Wallohu A’lam,
Wabillahittaufiq.

Dijawab dengan ringkas oleh:
👤 Team Tanya Jawab Bimbingan Islam
📆 Selasa, 03 Rabi’uts Tsani 1440 H / 11 Desember 2018 M

CATEGORIES
Share This

COMMENTS