Al-Fatihah Yang Disedekahkan Untuk Tawassul

Al-Fatihah Yang Disedekahkan Untuk Tawassul

Al-Fatihah Yang Disedekahkan Untuk Tawassul

Pertanyaan:

Di tempat saya sudah menular, di suruh jadikan amalan, baca al- fatihah dengan  beberapa jumlah disedekahkan kepada roh para sholihin, wali-wali, Rasulullah dan bertawasul kepadanya mohon apa sahaja hajat. Katanya roh para nabi dan orang-orang sholih ini ada keberkatannya.

Soalannya; apakah boleh berbuat begitu, apakah ia mengikut syariat, Menjadi kemusyrikan kepada saya.

جَزَاك اللهُ خَيْرًا

Ditanyakan oleh Sahabat BiAS T06 G-58

JAWAB:

بِسْـمِ الله

Alhamdulillāhi rabbil ālamīn

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi waman tabi’ahum bi ihsānin Ilā yaumil Qiyāmah. Amma ba’du

Menghadiahkan bacaan al-fatihah kepada roh orang yang sudah meninggal seperti itu tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah. Pada dasarnya, orang yang sudah meninggal tidak lagi bisa mendapatkan manfaat dari yang masih hidup kecuali sebatas apa yang dijelaskan oleh dalil, seperti: didoakan agar mendapat kebaikan/ampunan, sedekah yang diniatkan pahalanya untuk si mayit, dilunasi hutang-hutangnya, dishalatkan jenazahnya, diumrohkan/dihajikan, dan dilunasi hutang puasanya kalau ia punya hutang puasa.

Adapun amalan ibadah lain yang dilakukan oleh yang masih hidup dengan niat bahwa pahalanya untuk si mayit (selain yang termasuk dalam apa yang saya sebutkan tadi) statusnya adalah tidak jelas. Oleh karenanya, lebih baik kita mencukupkan diri dengan yang jelas-jelas bermanfaat bagi si mayit dan meninggalkan yang tidak jelas manfaatnya tersebut.

Adapun bertawassul kepada Rasulullah atau orang yang sudah meninggal, maka yang sering kali terjadi ialah dengan cara-cara yang batil seperti dengan meminta kepada yang sudah meninggal tadi (baik saat berada di depan kuburnya maupun tidak) agar mendoakan kebaikan bagi dirinya… Kalau seperti ini bentuk tawassulnya, maka ini termasuk syirik, karena meyakini bahwa orang yang sudah mati dapat mendengar panggilan yang masih hidup… atau dapat mendoakan yang masih hidup.

Tawassul yang dianjurkan hanya ada tiga macam:

1- Tawassul dengan menyebut nama-nama Allah yang indah (asma-ul husna) sesuai dengan doa yang kita panjatkan. Contoh: Kita ingin minta rezeki, maka kita berdoa kepada Allah dengan menggunakan nama-Nya yang sesuai, seperti : Yaa Razzaaq urzuqni (Wahai Sang Pemberi Rezeki, berilah aku rezeki). Kalau ingin diampuni, ya doanya: Yaa Ghaffaar atau Yaa Ghafuur ighfir li. Kalau ingin diberi rahmat: Yaa Rahmaan/Yaa Rahiim irhamni, dan seterusnya.

2- Tawassul dengan amal shalih kita pribadi. Seperti bilamana seseorang telah menunaikan suatu amal shalih, lalu ia minta kepada Allah jika memang amal tersebut diterima oleh Allah, hendaknya Allah mengabulkan suatu hajatnya.

3- Tawassul dengan minta didoakan oleh orang shalih yang masih hidup dan dimintai secara langsung. Baik dengan datang kepada orang tersebut atau via telepon/sms/chat dan sebagainya. Intinya, orang yang dimintai doanya ini harus masih hidup dan mengetahui permintaan doa dari yang bersangkutan. Bukan dengan memanggil-manggil nama orang yang masih hidup namun tidak ada bersamanya, dan bukan pula minta doa kepada yang sudah meninggal dunia.

Tawassul dengan cara selain yang tiga ini adalah perbuatan batil. Maka berhati-hatilah.

Roh para Nabi memang diberkahi, namun berkah itu datangnya dari Allah dan hanya bisa mengenai seseorang dengan cara-cara yang diridhai oleh Allah. Bukan dengan keyakinan-keyakinan yang tidak berdasarkan dalil, atau dengan cara-cara yang tidak diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Ikutilah sunnah Rasulullah dalam beribadah, niscaya Anda akan dapat berkah. Bukan dengan mengamalkan bid’ah dan khurafat seperti ini. Yang seperti ini justru mendatangkan murka Allah, bukan berkah.

Selain Rasulullah dan para sahabat beliau yang mendapat pujian langsung dari Allah dan Rasul-Nya, statusnya adalah tidak dapat dipastikan sebagai orang shalih, sehingga tidak boleh disikapi sebagaimana kita menyikapi Rasulullah. Jika Rasulullah saja tidak boleh disikapi dengan cara keliru padahal beliau jelas-jelas orang shalih, maka orang selain beliau lebih tidak pantas lagi untuk disikapi demikian.

Wallaahu a’lam

Konsultasi Bimbingan Islam

Dijawab oleh Ustadz Dr. Sufyan Baswedan Lc MA

CATEGORIES
Share This

COMMENTS