Adab & Akhlak

Akhlak Islam adalah Malu

Akhlak Islam adalah Malu

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan:Akhlak Islam adalah Malu. Selamat membaca.


Pertanyaan:

السلام عليكم حياكم الله يا أستاذ

Afwan ustadz, mau nanya.

1. Apa saja keutamaan² malu?

2. Apa pengertian tercela?

Kemudian apa contoh perilaku tercela?

Baarakallaahu fiikum ustadz Jazaakumullaahu Khoyron atas jawabannya.

(Ditanyakan oleh Santri Mahad BIAS)


Jawaban:

Waalaikumsaalam warahmatullah wabarokatuh

Rasa malu adalah akhlak terpuji yang akan membangkitkan setiap perilaku baik dan mendorong untuk menjauhi perilaku tercela. Sifat malu dianggap sebagai sumber utama dari terciptanya akhlak terpuji lainnya, ia sebagai perhiasan yang akan memperindah iman yang ada di dalam diri seorang muslin sehingga ia pun juga sebagai syiar islam yang harus selalu di jaga dalam setiap perilaku, sebagaimana yang disebutkan di dalam suatu hadist,

إِنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا، وَخُلُقُ الْإِسْلَامِ الْحَيَاءُ

Setiap agama memiliki akhlak dan akhlak Islam adalah malu.” (HR. Ibnu Majah : 4182, di shahihkan oleh syekh Albani di dalam shahih :940)

Berkata Wahab bin Munabbih dalam menyifati rasa malu yang akan memperindah dan menjauhkan diri dari kejelekan, “ibarat iman yang tidak tertutup, di mana pakaiannya adalah takwa dan perhiasannya adalah rasa malu.” Sehingga dikatakan, “barang siapa yang menutup pakaiannya dengan rasa malu maka manusia tidak akan melihat aibnya.”

Karenanya syariat memerintahkan dan menganjurkan umatnya untuk berakhlak dengan rasa malu dan menjadikannya sebagai bagian dari iman yang dimiliki. Sangat banyak hadist-hadist yang terkait dengan rasa malu, yang menunjukkan besarnya perhatian islam terhadap akhlak malu, dengan artian seorang hamba selalu malu terhadap kejelekan dan kemaksiatan, atau malu bila tidak menjalankan kebaikan. Berikut di antaranya hadist-hadist yang menunjukkan tentang keutamaan dan perhatian islam terhadap akhlak malu ini, antara lain:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْإِيـمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيـمَانِ

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Iman memiliki lebih dari enam puluh cabang, dan malu adalah bagian dari iman”. (H.R. Bukhari 8)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْإِيـمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْعَظْمِ عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيـمَانِ

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Iman itu ada tujuh puluh cabang, yang paling afdhal adalah LAA ILAAHA ILLAALLAH dan yang paling rendah adalah menyingkirkan tulang dari jalan, dan malu adalah bagian dari keimanan.” (H.R. Abu Daud 4056)

عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا كَانَ الْفُحْشُ فِي شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ وَمَا كَانَ الْحَيَاءُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ

Dari Anas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah sifat buruk berada dalam sesuatu kecuali akan memperburuknya, dan tidaklah sifat malu ada dalam sesuatu kecuali akan menghiasinya.” (H.R. Tirmidzi 1897, menurutnya hadits ini Hasan Gharib)

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِلْأَشَـجِّ الْعَصَرِيِّ إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُـحِبُّـهُمَا اللهُ الْحِلْمَ وَالْحَيَاءَ

Dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Al Asyaj Al ‘Ashri: “Sesungguhnya dalam dirimu terdapat dua sikap yang dicintai oleh Allah; sifat santun dan malu.” (H.R. Ibnu Majah 4178)

عَنْ أَبُو مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَافْعَلْ مَا شِئْتَ

Dari Abu Mas’ud ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya diantara yang didapatkan manusia dari perkataan (yang disepakati) para Nabi adalah; “Jika kamu tidak punya malu, maka berbuatlah sesukamu”.” (H.R. Bukhari 3225, Ibnu Majah 4173, Ahmad 16470)

Dan hadist-hadist yang lain yang menunjukkan fungsi dan faidah dari rasa malu baik ia sebagai bagian dari iman, penghias, penjaga ataupun pendorong atas diri seorang hamba untuk malu terhadap perilaku keburukan dan malu bila tidak menjalankan perintah-perintah kebaikan dari agama, bukan rasa malu yang tidak pada tempatnya.

Di sisi lain dengan kebalikan dari akhlak terpuji, Islam juga melarang umatnya melakukan perilaku yang tercela, tercela menurut kacamata islam yang melanggar hukum dan syariat, tercela karena telah melanggar norma hukum dan adat istiadat masyarakat setempat, sehingga manusia merasa tidak suka dan benci dengan apa yang dilakukannya. Itulah makna akhlak tercela yang mengandung beberapa unsur yang harus terpenuhi, aturan agama, aturan norma negara dan norma masyarakat dengan adat istiadat dengan menjadikan syariat agama sebagai barometer utama dari segala norma dan dogma yang di dapatkan dalam diri manusia. Bila adat menjadikan minum dengan tangan kiri bagian dari akhlak yang terpuji, namun ternyata agama telah mencelanya dengan memasukkannya bagian dari perbuatan syetan maka tuntunan agama harus didahulukan. Pun begitu, bila agama telah memerintahkan manusia untuk tidak mudah mencela manusia lainnya, padahal misalnya negara dan adat membolehkannya maka seorang yang beriman tidak akan melakukannya, karena agama sebagai rambu rambu utama dari akhlak yang terpuji dan akhlak tercela. Intinya bahwa akhlak tercela adalah perilaku yang telah dicela/dilarang oleh agama, juga oleh norma masyarakat dan aturan negara, begitu sebaliknya yang dipandang baik oleh agama, norma masyarakat dan aturan negara itulah akhlak terpuji yang harus dijaga.

Banyak dari akhlak tercela yang telah disebutkan oleh Islam untuk di jauhi, baik dari dalil Al-Qur`an ataupun dalil dari As-Sunnah, misal akhlak yang tercela: berdusta, berkhianat, tidak amanah, mencela, ghibah, pemarah, bakhil, berburuk sangka, berkata kotor, tidak sopan kepada Allah, RasulNya, kitabNya, malaikatNya, tidak sopan kepada orang tuanya, guru, manusia lainnya dan sebagainya dari akhlak tercela yang tidak disukai oleh agama dan manusia. Wallahu a`lam.

 

Dijawab dengan ringkas oleh:
USTADZ MU’TASIM, Lc. MA. حفظه الله
Kamis, 22 Shafar 1443 H/ 30 September 2021 M


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله 
klik disini

Baca Juga :  Baru Belajar, Menjawab “Tak Tahu”, Menyembunyikan Ilmu?

USTADZ MU’TASIM, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button