Fiqih

Air Bercampur Gula, Apa Hukumnya?

Pendaftaran AISHAH Online Angkatan 2

Air Bercampur Gula, Apa Hukumnya?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan pembahasan tentang hukum air yang bercampur gula, apa hukumnya? Selamat membaca.


Pertanyaan:

Bismillah, afwan ustadz mau bertanya mengenai soal ujian. Bahwa disebutkan ada air satu gentong kemudian kemasukan gula sampai menjadi manis. Pertanyaan ini ambigu. Kenapa 1 sendok gula bisa membuat manis air di gentong?

Apakah airnya sedikit atau konsentrat gulanya sangat pekat sehingga membuat air menjadi manis. Misalnya kena gula satu sendok dan air satu gentong menjadi manis.

Apakah bukannya air menjadi suci tapi tidak menyucikan? Syukron. Terima kasih atas kesempatan pertanyaannya.

(Ditanyakan oleh Santri Kuliah Islam Online Mahad BIAS)


Jawaban:

Bismillah..

Yang kami pahami, bahwa air tersebut masih suci dan menyucikan, karena ia masih disebut sebagai air mutlak, walaupun ada sedikit perubahan rasa dari air tersebut.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Nawawi dengan definisi dari air mutlak, ia mengatakan:

“Definisi yang benar tentang air mutlak yaitu air yang terbebas dari tambahan-tambahan nama yang baku”, maksudnya tanpa penambahan nama pada air tersebut, misal air teh, air kopi, dsb.”

Berkata Imam Nawawi Rahimahullah ta`ala,”

قال النووي : ” وإن كان يسيرا ، بأن وقع فيه قليل زعفران فاصفرَّ قليلاً ، أو صابون أو دقيق فابيض قليلاً ، بحيث لا يضاف إليه ، فالصحيح أنه طهور ؛ لبقاء الاسم ” .

Baca Juga:  Kapan Mulai Mengangkat Jari saat Tasyahud?

انتهى من المجموع شرح المهذب ” (1/103) ، يعني : بقاء اسم الماء المطلق عليه .

Dan bila (bahan campurannya) sedikit, misal tercampur dengan sedikit dari za`faran sehingga warnanya menguning, atau sabun, ada tepung sehingga sedikit memutih, di mana tidak disandarkan (ditambahkan) nama sesuatu pada air tersebut, yang benar bahwa air tersebut suci, karena nama (air mutlak) masih melekat padanya.”

Ketika ditanya dengan pertanyaan tentang air yang bercampur dengan lumpur atau dedaunan, Syaikh bin Baz menjawab,”

Bahwa boleh berwudhu dengan air yang seperti itu, mandi dengannya, minum darinya, karena nama air (secara mutlak) masih tetap melekat padanya. Dengannya air tersebut bersih, campuran yang berupa tanah atau tetumbuhan tidak sampai menghilangkan makna kesuciannya.” (Majmu Fatawa wa Maqolaat Syaikh Bin Baz : 10/17)

Wallahu waliyyuttaufiq, wallahu ta`ala a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Jumat, 9 Rabiul Akhir 1444 H/ 4 November 2022 M

[TS_Poll id="2"]

Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik di sini

Akademi Shalihah Menjadi Sebaik-baik Perhiasan Dunia Ads

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button