Ahlus Sunnah Selalu Memprioritaskan Tauhid Dalam Berdakwah

Ahlus Sunnah Selalu Memprioritaskan Tauhid Dalam Berdakwah

Ahlus Sunnah Selalu Memprioritaskan Tauhid Dalam Berdakwah

Diantara karakteristik manhaj dakwah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah dakwah kepada tauhid. Dakwah tauhid adalah prioritas utama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Karena itu merupakan misi dakwah para nabi dan rasul di muka bumi ini. Mereka memulai dakwahnya dengan tauhid dan mengakhirinya dengan tauhid.

Sebab dakwah tauhid adalah unsur terpenting dalam berdakwah yaitu mengesakan hak-hak Allāh tabāraka wa ta’āla dalam setiap ibadah serta berusaha mengenalkan Allāh kepada hambanya sedekat-dekatnya dengan mengenalnya melalui tauhid asma’ wa sifat. Dengan tauhid inilah Allāh tabāraka wa ta’āla mengutus para RasulNya yg sesuai dalam firmanNya,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) : “Sembahlah Allāh (saja), dan jauhilah Thaghut itu” [(QS. An-Nahl : 30]

Bila anda ingin menjadi orang tua yang sukses, maka anda harus mampu menanamkan pendidikan berkarakter terhadap anak anda. Tentu pendidikan karakter tersebut adalah tauhid. Lihatlah bapak para Nabi yaitu Ya’qub ‘alaihis salam, dimana tatkala dirinya berkecamuk dengan sakaratul maut, namun masih mengajarkan tauhid bagi anak-anaknya,

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ ءَابَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya : “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab : “Kami akan menyembah sesembahanmu dan sesembahan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) sesembahan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” [QS.Al-Baqarah : 133]

Tatkala anak-anak anda tersemai karakter tauhid mereka akan menjadi pribadi-pribadi yang tangguh. Tidak takut selain kepada Allāh . Ajarkanlah kemuliaan tauhid. Terkadang masih ada saja karakter kesyirikan yang muncul misalnya lewat kuburan masih takut, padahal aqidah kita mengajarkan orang mati sudah tidak bisa ke alam dunia, ketika belajar mungkin tidak takut, tapi seiring berjalannya waktu dan terpengaruh film, bisa jadi takut lagi lewat kuburan. Inipun tidak hanya terjadi pada anak-anak, orang dewasa pun demikian.

Inilah metode dakwah Nabi shallallāhu alaihi wa sallam, yaitu mendakwahkan ilmu tauhid dan keagungannya. Sebagaimana beliau memerintahkan Muadz Bin Jabal saat akan berdakwah ke Yaman agar mendakwahkan tauhid terlebih dahulu. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata :

لَمَّا بَعَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ إِلَى الْيَمَنِ قَالَ لَهُ إِنَّكَ تَقْدُمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوْهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوْا اللهَ تَعَالَى.

“Tatkala Nabi shallallāhu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman beliau berkata kepadanya : “Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab, maka hendaknya yang engkau dakwahkan di awal kali kepada mereka adalah untuk mentauhidkan Allāh Ta’ala”. (HR. Bukhary-Muslim)

Jika kita lihat dalam kehiduan sehari-hari misalnya, masih banyak praktek amalan kesyirikan yang dipoles dengan embel-embel wisata, dengan alasan menghidupkan kearifan budaya lokal untuk menarik wisatawan demi meraup keuntungan sebesar-besarnya. Dengan alasan itu pula dikaitkan dengan pembangunan, dan lain sebagainya. Namun kenyataannya bukankah itu syirik? Allāh Maha Kaya atas apa yg tidak kita punya. Jika karena beragama mengikuti nenek moyang, kita wajib bertanya nenek moyang mana yang wajib kita ikuti? Lah bagaimana jadinya kalau nenek moyang itu tidak pernah sholat, zakat, haji? Bagaimana pula jika nenek moyang itu adalah penghuni neraka? Lalu buat apa selama ini kita membaca Al Qur’an? Padahal ia adalah warisan dari neneka moyang kita yang shalih dan namanya disebut dalam Al Qur’an bahkan dijamin masuk surga. Kemudian apakah Al Qur’an itu hanya menjadi hiasan penghias lemari kaca semata, tak ada ilmu tadabbur terhadapnya? Atau kita hanya seekor keledai yang memanggul tumpukan kitab? Lalu melemparnya ke belakang punggung?

Tauhid asma’ wa shifat adalah poros utama tauhid selain tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyah, sebab banyak umat-umat terdahulu yang mereka menyelisihi aqidah Ahlus Sunnah Wal jama’ah lantaran tauhid ini. Diantara mereka banyak yang bepercah, dan tersesat dalam mentakwilkan sifat Allāh tabāraka wa ta’āla .

Tentu sebuah bukti nyata adalah diutusnya para Nabi dan Rasul dalam mengemban dakwah tauhid ini. Dan inilah bukti nyata metode dakwah para Nabi dan Rasul ‘alaihimush shalatu wasalam. Dan Allāh Jalla Dzikruhu berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada sesembahan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” [QS. Al-Nahl : 36]

Lawan dari tauhid adalah syirik, inilah bukti kekejian kaum-kaum terdahulu yang telah Allāh musnahkan karena kesombongan atas kesyirikan mereka. Allāh Jalla Sya`nuhu menyatakan :

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu : “Jika kamu mempersekutukan (Allāh ), niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.”. (QS. Az-Zumar : 65)

Lihatlah dakwah Nabi shallallāhu alaihi wa sallam selama 13 tahun saat fase Mekkah, prioritas dakwah beliau adalah Tauhid dan memurnikan Aqidah, inilah prioritas dakwah yg beliau mulai sejak mengemban amanah sebagai seorang Rasul. Selama di periode Makkah awal-awal dakwah, belum ada beban syariat ibadahpun turun (belum wajib puasa, zakat dan lain-lain, hal ini baru diwajibkan di Madinah)

Fokus saat itu adalah dakwah tauhid dan aqidah, kewajiban yang baru ada saat itu adalah shalat, hal itupun turun di akhir fase Mekkah, kondisi saat itupun shalatnya masih diperbolehkan berbicara bahkan boleh mendatangi shalat jamaah sambil mabuk. Jadi pada saat itu benar-benar dakwah difokuskan kepada dakwah tauhid, iman dan aqidah.

Dan di akhir hayat Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa ala alihi wa sallam dalam keadaan sakit, beliau juga memperingatkan dari kesyirikan sebagaimana sabda beliau :

لَعَنَ اللهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَىَ اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

Allāh telah melaknat orang yahudi dan nashara, mereka menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid”. (HR.Bukhari-Muslim)

Kesimpulannya memang semua materi dakwah itu penting, tetapi yang tetap menjadi prioritas serta perhatian adalah dakwah tauhid. Belajar shalat bisa jadi sekali saja sudah paham dan dipraktekkan, namun belajar tauhid itu seumur hidup karena tauhid terkait dengan keimanan dan amalan hati, semisal cinta, takut, berharap dan sebagainya. Ilmu tauhid merupakan ilmu mulia sebelum materi dakwah yang lain.

Ditulis oleh:
👤 Ustadz Saryanto Abu Ruwaifi’ حفظه الله



👤 Ustadz Saryanto Abu Ruwaifi’ حفظه الله

(Alumni STAI Ali Bin Abi Thalib Surabaya, Mahasiswa S2 Magister Hukum Islam – Kelas Internasional Universitas Muhammadiyah Surakarta, Da’i Mukim Yayasan Tebar Da’i Mukim di Bandungan, Kab. Semarang, Jawa Tengah)

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Saryanto Abu Ruwaifi حفظه الله  klik disini

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS