Agama Itu Nasehat

Agama Itu Nasehat

Fiqih Teguran dan Nasehat (1)
Agama Itu Nasehat

Seorang bijak berkata: ‘manusia itu tempatnya salah dan lupa.’ Oleh karena itu, kebutuhannya terhadap teguran dan nasehat sama besarnya dengan kebutuhannya terhadap makan dan minum. Tidak ada satu pun manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan Sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan,

كل بني آدم خطاء وخير الخطائين التوابون

“Setiap anak adam pasti melakukan kesalahan dan sebaik baik yang melakukan kesalahan adalah yang gemar bertaubat” (H.R. At Tirmidzi no. 2499)

Karena itulah agama ini dibangun di atas nasehat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الدين النصيحة، قلنا لمن؟ قال: لله ولكتابه ولرسوله  ولأئمة المسلمين وعامتهم

“Agama adalah nasehat, kami (para sahabat) berkata: untuk siapa? Beliau menjawab: untuk Allah, untuk kitabNya, untuk RasulNya, untuk pemimpin-pemimpin kaum muslimin dan untuk umumnya kaum muslimin” (H.R. Muslim, Abu Dawud, An-Nasaa’i dan Ahmad)

Dan inti dari dakwahnya para nabi dan rasul adalah nasehat. Tidak ada satu nabi pun diutus melainkan menasehati umatnya untuk kembali kepada tauhid dan menjauhi kesyirikan. Serta menasehati mereka untuk mengerjakan kebaikan dan menjauhi kemungkaran. Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Nuh ‘Alaihis salaam:

أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَأَنصَحُ لَكُمْ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ۝

“Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasehat kepadamu. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (Q.S. Al-A’raf 7: 62)

Maksudnya: aku mengetahui hal-hal yang ghaib yang tidak dapat diketahui kecuali hanya dengan jalan wahyu dari Allah Subhanahu wa ta’ala.

Tentang Nabi Hud ‘Alaihis salaam:

أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَأَنَا لَكُمْ نَاصِحٌ أَمِينٌ۝

“Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu.” (Q.S. Al-A’raf 7: 68)

Tentang Nabi Shalih ‘Alaihis salaam:

فَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَا قَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَةَ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ وَلَٰكِن لَّا تُحِبُّونَ النَّاصِحِينَ۝

“Maka (Shaleh) meninggalkan mereka seraya berkata: “Hai kaumku Sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasehat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat.” (Q.S. Al-A’raf 7:79)

Tentang Nabi Syu’aib ‘Alaihis salaam:

فَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَا قَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ ۖ فَكَيْفَ آسَىٰ عَلَىٰ قَوْمٍ كَافِرِينَ۝

“Maka Syu’aib meninggalkan mereka seraya berkata: “Hai kaumku, Sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku telah memberi nasehat kepadamu. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir?”.” (Q.S. Al-A’raf 7:93)

Maka dari itu menegur dan menasehati merupakan metode rabbani dalam memperbaiki masyarakat. Allah telah mencontohkannya kepada kita ketika menegur RasulNya:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ ۖ تَبْتَغِي مَرْضَاتَ أَزْوَاجِكَ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ۝

“Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.S. At-Tahrim 66: 1)

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengharamkan dirinya minum madu untuk menyenangkan hati isteri-isterinya. Maka turunlah ayat teguran ini kepada Nabi.

Akan tetapi meskipun kesalahan sudah menjadi tabiat manusia, meskipun teguran dan nasehat merupakan solusi untuk memperbaiki itu, namun tetap saja memerlukan adab dan cara yang benar dalam menyampaikan teguran dan nasehat tersebut. Karena jika tidak, bukannya kebaikan yang akan didapat, justru perlawanan, penentangan, permusuhan, dan kebencian yang akan terjadi.

Bersambung…

Ditulis Oleh:
Ustadz Al-iskandar bahr
(Kontributor Bimbinganislam.com)

CATEGORIES
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )