Adakah Nasehat dari Ulama Tentang Mengkafirkan Pemimpin yang Dipilih Secara Demokrasi?

Adakah Nasehat dari Ulama Tentang Mengkafirkan Pemimpin yang Dipilih Secara Demokrasi?

Adakah Nasehat dari Ulama Tentang Mengkafirkan Pemimpin yang Dipilih Secara Demokrasi?

Pertanyaan :

بسم اللّه الرحمن الر حيم

السلام عليكم ورحمةالله وبركاته

Ustadz, adakah nasehat dari para ulama salaf, tentang bahayanya mengkafirkan pemerintahan kaum muslimiin yang diangkat atau di pilih secara demokrasi ?

Dan seperti apa pemahaman dan penegakan tentang hukum Alloh سبحانه و تعالىٰ yang benar , penerapannya menurut para ulama salaf ?

جزاكم الله خيرا وبارك الله فيكم.

(Disampaikan oleh Fulan di Musi Admin BiAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in.

Semoga Allah سبحانه و تعالىٰ memberikan hidayah-Nya kepada kita semua dan memberikan taufiq kepada para pemimpin kita dalam mengemban amanah memimpin Negara ini.

Permasalahan mengkafirkan individu atau personal yang diistilahkan oleh para ulama dengan takfir mu’ayyan, merupakan perkara besar di dalam islam, saking bahayanya permasalahan takfir ini Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا قَالَ الرَّجُلُ لِأَخِيهِ يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهِ أَحَدُهُمَا

“Apabila seseorang berkata kepada saudaranya; “Wahai kafir” maka bisa jadi akan kembali kepada salah satu dari keduanya.”
(Bukhori :5638).

Ibnu Hajar berkata:

والحاصل أن المقول له ان كان كافرا كفرا شرعيا فقد صدق القائل وذهب بها المقول له وإن لم يكن رجعت للقائل معرة ذلك القول وإثمه. كذا اقتصر على هذا التأويل في رجع، وهو من أعدل الأجوبة

“Apabila orang yang dituduh itu memang betul-betul kafir secara syar’i maka tuduhan tersebut benar adanya. Namun, apabila tuduhannya tidak benar maka keburukan dan dosa tuduhan itu kembali kepada penuduh. Inilah ringkasan pemahaman kata “raja’a” (kembali). Ini adalah jawaban yang paling tepat.”
(fathul baari: 10/466)

Hal yang harus dipahami adalah hukum kufurnya sebuah perbuatan tidak melazimkan kufurnya pelaku perbuatan, mengkafirkan pelaku kekufuran dibolehkan ketika telah terpenuhi syarat – syarat takfir, sehingga yang boleh mengkafirkan adalah orang – orang yang memahami permasalahan ini bukan semua orang.

Apalagi kalau seandainya yang dikafirkan adalah pemerintah muslim sah yang memimpin sebuah Negara, tentu bahayanya jauh lebih besar, walaupun, pemimpin tersebut terpilih bukan dengan cara yang syar’i termasuk disini cara demokrasi.  Karena diantara aqidah ahlussunah adalah tidak mengkafirkan dan tetap berbaiat kepada pemimpin muslim yang sah, sekalipun terpilihnya pemimpin tersebut dengan jalan kudeta ataupun pemberontakan.

Imam Ahmad berkata:
Siapa yang keluar dari ketaatan kepada seorang imam padahal masyarakat telah mengakui kepemimpinannya dengan cara apapun, baik dengan cara yang diridhoi maupun kudeta, maka dia telah merusak aturan kaum muslimin dan menyelisihi hadits – hadist Rasulullah, apabila orang tersebut mati maka dia mati dalam keadaan jahiliyyah.
(Almasail wa rosail: 2/5).

Adapun permasalahan penegakan hukum Allah سبحانه و تعالىٰ adalah dengan mengembalikan segala perkara kepada aturan Allah سبحانه و تعالىٰ baik yang terdapat dalam alquran atau yang dijelaskan Rasulullah , yang mana kalau aturan ini tegak di sebuah Negara maka akan baiklah kehidupan di Negara tersebut.

Syaikh Bin Baz berkata:

فالحكم بما أنزل الله أهم الفرائض، ومن أعظم الواجب، ولا سبيل إلى استقامة العباد على طاعة الله وتوحيده، ولا سبيل إلى توحيدهم لله وقيامهم بحقه، ولا سبيل إلى إنصاف مظلومهم وظالمهم إلا بالله، ثم بحكم الشرع؛ بتحكيم القرآن والسنة على الصغير والكبير، وعلى الخاص والعام، وفي جميع الأمور.

“Berhukum dengan aturan yang Allah turunkan merupakan kewajiban yang paling besar, dan tidak mungkin kehidupan para hamba bisa istiqamah diatas tauhid dan ketaatan kepada Allah, tidak mungkin hilang kezholiman kecuali dengan kehendak Allah kemudian  dengan menegakkan hukum syariat dengan cara menerapkan  alquran dan sunnah kepada rakyat kecil maupun besar, khusus maupun umum dan disetiap perkara.”
(https://binbaz.org.sa/discussions/119).

Namun, harus diperhatikan penegakan hukum Allah haruslah dengan cara yang Allah ridhoi, lihatlah bagaimana ketika Rasulullah ﷺ dahulu ingin menegakkan hukum Allah, apa langkah yang Beliau tempuh? Beliau mendakwahi setiap lini masyarakat, dari pemimpin quraisy kala itu sampai rakyat jelata, dan beliau bersabar didalam dakwah selama kurang lebih 13 tahun, sampai Allah berikan kepada beliau kepemimpinan di kota Madinah, sehingga beliau bisa menegakkan hukum Allah سبحانه و تعالىٰ.

 

Wallahu a’lam
Wabillahit taufiq

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله
Selasa, 24 Syawwal 1440 H / 28 Juni 2019 M



Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى 
klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS