Adab Berdakwah : Kita Hanya Menyampaikan?

Adab Berdakwah : Kita Hanya Menyampaikan?

Pertanyaan :

 

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

 

Ustadz, apakah benar perkataan sebagian orang yang berdakwah memberikan nasehat bahwa, “Kita hanya menyampaikan saja, adapun hidayah adalah milik Alloh”, sehingga dari perkataan ini, mereka berdakwah apa adanya dengan apa yang disampaikan Alloh dan Rasul-Nya tanpa mempedulikan reaksi orang yang menerima dakwah kita? Atau tetap diperlukan kiat-kiat agar kita bisa mencuri hati orang yang kita dakwahi agar apa yang kita dakwahkan lebih mudah untuk diterima?
Jazakalloh khoiron

(Dari Hamba Alloh Anggota Grup WA Bimbingan Islam)

Jawaban :

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبر كاته

Hidayah memang di tangan Allah dan kewajiban kita sekedar menyampaikan. Maksudnya, kita tidak dituntut lebih dari menyampaikan sesuai yang diajarkan Allah dan RasulNya. Akan tetapi, bukan berarti kita menyampaikan asal-asalan tanpa menguasai ilmunya, baik ilmu dasarnya maupun ilmu alatnya. Termasuk ilmu dasar ialah ilmu tauhid, fikih, dan tafsir. Sedangkan ilmu alatnya cukup banyak, seperti ilmu bahasa Arab, ilmu hadits, ilmu usul fikih, ilmu sirah nabawiyah (sejarah) dan metode dakwah itu sendiri.

Tidak semua yang benar harus disampaikan dalam satu waktu dan kepada semua orang, walaupun ia 100 % benar. Seorang da’i dituntut untuk pandai memilih dan memilah antara yang harus disampaikan saat itu dan yang sebaiknya ditunda, atau bahkan harus ditunda; demikian pula kepada siapa dia harus sampaikan, dan bagaimana cara menyampaikannya. Ini semua adalah bagian dari ilmu metode dakwah yang disarikan dari Al Qur’an dan Sunnah, serta menjadi disiplin ilmu tersendiri yang diajarkan sampai ke perguruan-perguruan tinggi.

Sebagai contoh bahwa tidak semua kebenaran harus disampaikan di saat yang sama, ialah hadits tentang fadhilah tauhid yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam shaihain, dari Mu’adz bin Jabal, yang intinya bahwa Nabi mengatakan: “Hak Allah atas hambaNya ialah agar mereka beribadah kepadaNya tanpa menyekutukanNya dengan apa pun. Dan hak hamba terhadap Allah ialah agar Allah tidak mengazab siapa pun yang tidak menyekutukanNya”. Mu’adz pun bertanya girang setelah mendengarnya, “Ya Rasulullah, bolehkah kusampaikan berita gembira ini kepada orang-orang? Jawab Nabi: (لا تبشرهم فيتكلوا) “Jangan kau sampaikan kepada mereka, sebab mereka nanti akan bersandar kepada tauhid dan malas beramal”.

Akhirnya, Mu’adz baru menyampaikan hadits ini menjelang kematiannya, karena takut dosa bila menyembunyikan ilmu yang penting tersebut.

Ini jelas menunjukkan bahwa berdakwah bukanlah asal menyampaikan, namun harus dibarengi pemahaman dan perhitungan yang matang akan apa yang saat ini harus mereka ketahui dan apa pula akibatnya jika mereka tahu, atau tetap tidak tahu apakah mereka akan menjadi lebih baik ketika tahu, ataukah sebaliknya? Seorang da’i juga harus tahu berapa kadar maklumat yang perlu disampaikan, jangan terlalu sedikit sehingga tidak bisa difahami, namun juga jangan terlalu banyak sehingga membingungkan dan membosankan.

Contoh lain akan hal ini ialah apa yang dikisahkan ibunda Aisyah:

 

إنما نزل أول ما نزل منه سورة من المفصل ، فيها ذكر الجنة والنار حتى إذا ثاب الناس إلى الإسلام نزل الحلال والحرام ولو نزل أول شيء لا تشربوا الخمر لقالوا لا ندع الخمر أبدا ولو نزل لا تزنوا لقالوا لا ندع الزنا أبدا

 

Yang pertama kali turun dari Al Qur’an adalah sebuah surat pendek yang bercerita tentang Surga dan Neraka. Hingga setelah manusia kembali kepada Islam (tunduk pasrah terhadap aturan Allah), barulah turun aturan tentang halal-haram. Andai yg pertama kali turun adalah ‘jangan kalian minum khamer’ mereka akan menjawab, ‘Kami tidak akan meninggalkan khamer selamanya’. Atau andai yg pertama kali turun adalah, ‘Jangan kalian berzina’; niscaya mereka berkata, ‘Kami tidak akan meninggalkan zina selamanya’. (HR. Bukhari).

Dalam mengingkari kemungkaran yang merupakan bagian dari dakwah, Rasulullah juga memerhatikan caranya, bukan asal mengingkari, terkadang beliau mengingkari dengan keras dan tegas, namun seringkali beliau mengingkari dengan lembut dan penuh toleransi. Beliau menegur keras Mu’adz bin Jabal yang mengimami shalat isya’ namun membaca surat al-Baqarah! Sehingga ditinggalkan oleh salah satu makmumnya yang tidak bisa berlama-lama. Nabi lantas memarahi Mu’adz dan mengatakan kepadanya, “Apakah engkau seorang pembuat fitnah hai Mu’adz!?”. Kemudian menyuruhnya untuk membaca surat-surat pendek saat mengimami shalat (Muttafaq ‘alaih).

Namun lain halnya ketika ada seorang Arab Badui yg tiba-tiba masuk masjid Nabawi lalu kencing di pojok masjid!! Para sahabat marah luar biasa dan hampir memukulinya, namun Nabi justru melarang mereka memutus kencingnya. Kemudian begitu selesai kencing beliau menyuruh diambilkan seember air lalu disiramkan ke bekas kencing tersebut, dan menasehati si Arab Badui dengan lemah lembut! (Muttafaq ‘alaih).

Ini jelas menunjukkan pula bahwa dalam memberikan pelajaran kita harus mengetahui latar belakang seseorang, apakah karena kejahilan semata yang patut dimaklumi, dan kesalahannya demikian jelas di mata banyak orang, sehingga tidak perlu diingkari dengan kasar, karena orang yang keras tidak bisa dikerasi… (seperti pada kisah Badui, yg memang berperangai keras/kasar). Ataukah kesalahan tersebut dilakukan oleh orang yg berilmu dan sepintas nampak sebagai perbuatan baik, padahal dampak negatifnya demikian berbahaya karena menjadikan manusia menjauh dari ajaran agama, spt pada kisah Mu’adz. Kalau beliau dibiarkan berlama-lama mengimami shalat, niscaya makmumnya akan bubar satu persatu dan tidak suka shalat berjamaah di masjid. Mu’adz juga bukan orang Badui, akan tetapi beliau sahabat senior Nabi, sehingga ketika dikerasi pun beliau tidak akan sakit hati, namun semakin patuh dan menyadari kesalahannya.

Alhasil, itu semua perlu kajian yang mendalam dan pengalaman yang luas, tidak cukup hanya tahu dan menghafal dalil seseorang dapat berdakwah dengan benar. Perlu ada kematangan cara berfikir di samping penguasaan akan dalil, agar tidak salah dalam berdakwah sehingga bukannya menjadikan orang tertarik dengan Islam, namun justru memusuhi dan lari tunggang langgang. Ini jelas tidak dibenarkan.

Oleh karenanya, kami sarankan agar siapa pun yang terjun ke medan dakwah sebaiknya membaca buku-buku tentang metode dakwah. Bagi yang faham bahasa Arab, dapat membaca kitab (أصول الدعوة) karya Syaikh Dr. Abdul Karim Zaidan –rahimahullah. Kitab ini sangat bagus dan mumpuni di bidangnya. Kami tidak tahu apakah sudah diterjemahkan atau belum, tapi kami menemukan buku beliau lainnya dalam bab da’wah yang sudah diterjemahkan, judulnya: “Kisah-Kisah Al Qur’an” terbitan Robbani Press. Buku lain dalam bahasa Indonesia yang kami rekomendasikan dalam bab ini ialah tulisan Ustadz. Abdullah Zaen, MA yang pernah kami telaah, judulnya “14 Contoh Praktek Hikmah Dalam Berdakwah”.

Wallaahu a’lam.

 

Konsultasi Bimbingan Islam

Ustadz  Dr. Sufyan bin Fuad Baswedan, MA

 

CATEGORIES
Share This

COMMENTS