Ada Apa Di balik Shalawat Al-Fatih?

 

Shalawat Al-Fatih adalah shalawat yang sangat popular dan dibaca serta diamalkan oleh banyak kalangan kaum muslimin. Bagaimana awal kemunculan shalawat ini, dan apa saja keutamaan yang diklaim dikandung oleh shalawat ini? Mari kita simak fatwa yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad Farkus Al-Jaziri sebagai berikut semoga bermanfaat!

 

Pertanyaan:

Apa hukum mengamalkan shalawat Fatih yang sering dilakukan oleh kelompok Thariqah Tijaniyah setiap kali selesai shalat, yang mana pelaksanaannya sesuai dengan metode kaum sufi?


Jawaban:

Di antara kritikan yang layak untuk diperhatikan dari pengamalan “Shalawat Al-Fatih Lima Ughliq” yang sering dilakukan oleh kelompok Tijaniyah adalah apa yang disebutkan di dalam kitab Jawahirul Ma’ani yang ditulis oleh Ali bin Harazim,

“Sesungguhnya membaca shalawat Fatih sekali saja itu setara (pahalanya-pent) dengan setiap tasbih yang ada di seluruh dunia ini, setara dengan setiap dzikir, setiap doa yang besar maupun yang kecil yang ada di dunia ini. Dan shalawat Fatih sekali saja setara dengan membaca Al-Qur’an sebanyak enam ribu kali.”

Tidak diragukan lagi akan kesesatan ucapan ini, Ia menjadikan shalawat Fatih lebih utama dari pada dzikir yang diajarkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Apalagi sampai diklaim lebih utama dari seluruh dzikir yang ada di jagad raya ini. Bahkan pahala shalawat Fatih ini diklaim mengalahkan pahala membaca Al-Qur’an. Dan telah shahih hadits dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda,

 

Baca Juga:  Tidak Ada Kata Terlambat Dalam Belajar

خَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Sebaik-baik perkataan yang aku ucapkan dan juga para nabi sebelum aku adalah: Laa ilaha illallah wahdahu la syarika lahu lahul mulku walahul hamdu wahuwa ala kulli syai’in qadir.” (HR. Tirmidzi : 3585, dari hadits Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Silsilah Ahadits Ash-Shahihah : 1503).


Di antara aqidah yang rusak juga adalah ucapan mereka,

“Barangsiapa tidak meyakini bahwa shalawat Al-Fatih ini merupakan bagian dari Al-Qur’an maka ia tidak akan mendapatkan pahalanya.”

Disebutkan pula di dalam kitab Ad-Duratul Kharidah Syarah Al-Yaqutatil Faridah tulisan As-Susi,

“Bahwa shalawat Fatih ini bagian dari kalam Allah kedudukannya sama seperti hadits Qudsi.” Disebutkan pula, “Bahwa barangsiapa yang membaca shalawat Fatih ini maka akan diampukan dosa-dosanya, dan diberikan pahala kepadanya sebanyak enam ribu dari setiap tasbih, doa dan dzikir yang ada di seluruh jagad raya.”

Disebutkan pula, “Bahwa barangsiapa membaca shalawat Fatih ini sepuluh kali maka ia diberikan pahala yang lebih banyak dari pahala yang didapat oleh seorang wali yang arif yang hidup satu juta tahun lamanya.”

Disebutkan di dalam kitab Jawahirul Ma’ani,

“Sesungguhnya wirid ini disimpan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam khusus untuk aku (Ahmad At-Tijani) dan tidak diajarkan kepada satupun sahabat beliau. Karena beliau (nabi) tahu bahwa shalawat Fatih ini ditunda waktunya dan saat itu belum ada orang yang Allah takdirkan untuk menyebarkannya. Dan nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang Ahmad At Tijani untuk mengamalkan asmaul husna namun memerintahkan dia untuk mengamalkan shalawat Fatih ini.”

 Seorang yang berakal akan mengetahui bahwa di dalam ucapan ini terdapat tuduhan terhadap Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau menyembunyikan ilmu serta mengkhianati amanah. Dan itu satu hal yang mustahil terjadi pada diri para nabi dan rasul. Allah ta’ala berfirman,

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.” (QS. Al-Maidah : 67).

Kemudian lagi perintah beliau kepada Ahmad Tijani agar tidak mengamalkan Asma’ul Husna bertentangan dengan firman Allah Ta’ala,

“Dan Allah memiliki Asma’ul-husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebutnya Asma’ul-husna itu.” (QS. Al-A’raf: 180).

Ini adalah sebagian dari kesesatan kelompok Thariqah Tijaniyah berkenaan dengan keyakikan mereka terhadap shalawat Fatih ini. Belum lagi dzikir-dzikir yang bid’ah serta keyakikan syirik yang diyakini oleh kelompok ini seperti keimanan mereka terhadap aqidah Wahdatul Wujud (manunggaling kawula Gusti). Keimanan mereka terhadap Al-Fana’ yang mereka beri nama Wihdatusy Syuhud.

Pembagian keghaiban menurut mereka menjadi Ghaib Mutlaq yang hanya diketahui oleh Allah Ta’ala, dan Ghaib Muqayyad yaitu keghaiban yang tidak bisa diketahui oleh sebagian manusia namun diketahui oleh para Syaikh yang mukasyafat yang mampu mengabarkan hal-hal tersembunyi, kabar-kabar ghaib, ilmu tentang akibat dari kebutuhan, dan resiko yang ada di baliknya berupa kebaikan ataupun keburukan dan lainnya berupa ramalan-ramalan, Allah ta’ala berfirman,

“Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran.” (QS. Al-Hasyr: 2).

Dan ilmu itu ada di sisi Allah, akhir dari seruan kami adalah segala puji hanya milik Allah Sang Penguasa alam semesta. Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, sahabat serta saudara beliau sampai hari kiamat.

Al-Jazair, 02 Shafar 1428 H/ 20 Februari 2007M.

Syaikh Muhammad Ali Farkus Al-Jazairi.

wallahu a’lam.

Disusun oleh :
Ustadz Abul Aswad Al Bayati حفظه الله
Rabu, 05 Rajab 1442 H/ 17 Februari 2021 M


 Ustadz Abul Aswad Al-Bayati, BA.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumni MEDIU, dai asal klaten
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله  
klik disini

Baca Juga:  Hukum Menyebarkan Hadits yang Tidak Jelas Sumbernya