9 Mitos Di Kalangan Pendaki Gunung

9 Mitos Di Kalangan Pendaki Gunung

9 Mitos Di Kalangan Pendaki Gunung

Para pembaca Bimbinganislam.com yang mencintai Allah berikut kami sajikan pembahasan tentang 9 mitos di kalangan pendaki gunung, selamat membaca.

Mitos & Khurafat

Mitos sebagaimana ditorehkan di dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah :
Cerita suatu bangsa tentang dewa dan pahlawan zaman dahulu, mengandung penafsiran tentang asal-usul semesta alam, manusia, dan bangsa tersebut mengandung arti mendalam yang diungkapkan dengan cara gaib.

Sedangkan definisi mitos menurut wikipedia adalah :
Mitos (bahasa Yunani: μῦθοςmythos) atau mite (bahasa Belanda: mythe) adalah bagian dari suatu folklor yang berupa kisah berlatar masa lampau, mengandung penafsiran tentang alam semesta (seperti penciptaan dunia dan keberadaan makhluk di dalamnya), serta dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita atau penganutnya.

Dalam pengertian yang lebih luas, mitos dapat mengacu kepada cerita tradisional.

Diantara kata yang memiliki keterkaitan erat dengan mitos adalah kata khurafat. Menurut wikipedia khurafat/khu·ra·fat/ adalah : Dongeng (ajaran dan sebagainya) yang tidak masuk akal; takhayul.

Sedangkan definisi lain yang disebutkan dalam beberapa literatur arab tentang khurofat dinyatakan :

الخرافة هي الاعتقاد أو الفكرة القائمة على مجرد تخيلات دون وجود سبب عقلي أو منطقي مبني على العلم والمعرفة

“Khurofat adalah ideologi atau cara berfikir yang dibangun di atas takhayul semata, tanpa disertai adanya sebab yang masuk di akal, atau penalaran yang bertumpu pada ilmu dan pengetahuan.”
(Al-Mausu’ah Al-Muyassarah Lil I’jazil Ilmi : 303)

Cerita khurafat ini menyebar luas di tengah kaum muslimin sejak dahulu hingga kini. Bahkan tidak ada satu komunitas pun melainkan beredar di sana cerita-cerita khurafat, cerita tersebut sebagiannya benar dari satu sisi, namun mayoritasnya hanya cerita bohong, dusta dan tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.
Allah ta’ala berfirman :

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. 
(QS Al-Isra’ : 36).

Demikian pula komunitas pendaki gunung, terdapat banyak sekali cerita khurafat  yang muncul dan berkembang di tengah-tengah mereka. Kita pun harus selektif tidak asal mempercayai cerita yang berkembang karena masing-masing kita akan dimintai pertanggung jawaban kelak akan aqidah, ideologi dan keyakinan kita.

Sebagai seorang muslim kita haruslah beraqidahkan yang benar. Jika tidak maka kita terancam oleh ayat tersebut di atas. Pula aqidah yang benar itulah satu-satunya yang bermanfaat kelak di akhirat, Allah berfirman :

يَوْمَ لاَيَنفَعُ مَالٌ وَلاَبَنُونَ إِلاَّ مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”
(QS Asy-Syu’ara : 88-89)

Khurafat yang Tersebar di Kalangan Pendaki Gunung

Diantara sekian banyak cerita khurafat yang beredar di kalangan para pendaki gunung adalah :

1) Hantu pendaki

Sebuah keyakinan tentang cerita matinya pendaki gunung di tengah aktifitasnya mendaki kemudian menjelma menjadi hantu gentayangan yang sering menampakkan diri di hadapan para pendaki pada lokasi tertentu di gunung tertentu.

Keyakinan ini adalah keyakinan sesat, keliru sekaligus tidak memberi manfaat apa-apa kecuali hanya mencetak generasi penakut. Ruh dari orang yang telah meninggal dunia tidak akan bisa kembali ke dunia sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an :

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata,
“Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku beramal shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan dihadapan mereka ada barzakh (pembatas) sampai hari mereka dibangkitkan.”
(QS Al-Mukminun : 99-100)

2) Pendaki ganjil

Anggapan sial terhadap angka ganjil, tatkala rombongan pendaki berjumlah ganjil maka diyakini hal tersebut akan membawa sial.
Tak hanya di gunung khurafat tentang angka ganjil ini juga menjalar di hati kaum yang katanya terpelajar dari kalangan pengusaha hotel atau penerbangan. Seringkali kita tidak mendapati adanya kamar hotel berangka 13 atau kursi pesawat berangka 13.
Saking takut dan khawatirnya mereka terhadap cerita takhayul ini.

Fenomena ini disebut oleh para ulama sebagai Tathayyur atau merasa sial karena melihat, mendengar atau menyaksikan hal tertentu. Imam Ibnu Utsaimin menyatakan :

وهي التشاؤم بمرئي ، أو مسموع ، وقيل : التشاؤم بمعلوم مرئيّاً كان ، أو مسموعاً ، زماناً كان أو مكاناً ، وهذا أشمل ؛ فيشمل ما لا يُرى ، ولا يُسمع ؛ كالتطير بالزمان .

“Tathayyur adalah merasa sial dengan suatu hal yang dilihat atau yang didengar.
Dikatakan pula (dalam definisi lain) merasa sial dengan sesuatu informasi baik yang bisa dilihat atau yang didengar, berupa waktu ataupun tempat. Definisi ini lebih lengkap karena mencakup segala hal yang dilihat, atau didengar seperti merasa sial dengan waktu tertentu.”
(Al-Qaulul Mufid Ala Kitabit Tauhid : 2/39).

Merasa sial dengan bulan suro, merasa sial dengan angka ganjil, dengan warna tertentu, atau kejadian tertentu. Padahal secara nalar dan syariat hal-hal tersebut tidak berkaitan dengan kejadian ataupun kesialan.
Ia murni kesimpulan jahil dari orang-orang yang jauh dari aqidah Islam yang lurus.

Tathayyur ini merupakan sesuatu yang terlarang dalam agama Islam bahkan ia merupakan bagian dari kesyirikan. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، وَمَا مِنَّا إِلاَّ، وَلَكِنَّ اللهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ

“Thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik dan setiap orang pasti (pernah terlintas dalam hatinya sesuatu dari hal ini). Hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakkal kepada-Nya.”
(HR Bukhari dalam Adabul Mufrad : 909).

Kenapa thiyarah ini dikatagorikan sebagai salah satu bentuk kesyirikan?
karena pelakunya menjadikan sesuatu sebagai sebab terjadinya musibah padahal tidak demikian hakikatnya. Imam Ibnu Utsaimin menyatakan :

أن كل من اعتمد على سبب لم يجعله الشارع سببا لا بوحيه ولا بقدره فإنه مشرك

“Setiap orang yang bersandar kepada sebab, padahal syariat tidak menjadikannya sebagai sebuah sebab, tidak dengan wahyu maupun qadari maka orang tadi telah berbuat syirik.”
(Al-Qaulul Mufid Ala Kitabit Tauhid : 2/93).

Perbedaan mendasar antara Tathayyur dengan Thiyarah sebagaimana dijelaskan oleh Imam Izzudin Ibnu Abdissalam :

التطير هو الظن السيء الذي في القلب , والطيرة هي الفعل المرتب على الظن السيء

“Tathayyur adalah perasaan sial yang ada di dalam hati, sedangkan Thiyarah adalah perbuatan yang menjadi efek langsung dari keberadaan perasaan sial.”
(Aunul Ma’bud 10/406).

Ringkasnya Tathayyur adalah keyakinan, sedang thiyarah adalah perbuatannya.
Jika seseorang telah melakukan perbuatan Thiyarah ini maka ia membaca doa yang diajar oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :

مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا كَفَّارَةُ ذَلِكَ؟ قَالَ: أَنْ يَقُوْلَ أَحَدُهُمْ :اَللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ وَلاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ

“Barangsiapa mengurungkan niatnya karena thiyarah, maka ia telah berbuat syirik.”
Para Sahabat bertanya: “Lalu apakah tebusannya?”
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Hendaklah ia mengucapkan: ‘Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan dari Engkau, tiadalah burung itu (yang dijadikan objek tathayyur) melainkan makhluk-Mu dan tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau.’”
(HR Ahmad : 2/220 dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir dalam Tahqiq Musnad Ahmad : 7045, dishahihkan pula oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah : 1065).

3) Menangkap dan membunuh hewan

Sebagian lagi menganggap bahwa menangkap hewan atau mengganggunya atau membunuhnya akan menjadi sebab seseorang mengalami kesialan. Ini bisa jadi benar dari satu sisi, tidak benar dari sisi yang lain.

Apabila seseorang menangkap atau membunuh hewan di gunung untuk keperluan makan misalnya dalam kondisi terdesak maka tidak mengapa dan boleh hukumnya. Selama tidak dilarang oleh pemerintah seperti menangkap hewan-hewan yang dilindungi.

Tapi ada satu kondisi dimana kita dituntut untuk berhati-hati, sebisa mungkin tidak mengganggu hewan di malam hari karena ada kemungkinan hewan tersebut merupakan jelmaan dari bangsa jin.
Sehingga kita bisa mendapatkan gangguan balik dari mereka sebagai bentuk balas dendam.
Disebutkan di dalam kitab Hiwar Ma’as Syayathin kisah seorang pemuda bernama Gharib yang terkena gangguan jin karena pada satu malam ia buang air kecil lalu melihat anjing.

Pemuda ini lantas menendang anjing tadi sembari memakinya. Lalu terjadilah apa yang telah terjadi.
Ia mendapatkan gangguan jin dari jelmaan anjing yang ia tendang secara zalim. Sampai kemudian  diruqyah oleh Syaikh Muhammad Ash-Shayyim.
(Lihat kisah selengkapnya pada kitab Hiwar Ma’as Syatahin versi Indonesia Dialog dengan jin Kafir : 141-142 oleh Syaikh Muhammad Ash-Shayyim).

Kejadian yang mirip dengan itu disebutkan pula oleh Syaikh Wahid Abdussalam Bali di dalam kitab Wiqayatul Insan Minal Jin Was Syayathin : 96-99.

4) Mendaki dalam kondisi haid

Ini adalah anggapan yang tidak benar, secara asal wanita haid boleh pergi ke lokasi mana saja yang ia, termasuk ke gunung. Dan tidak ada dalil yang melarangnya.

Bahkan pendapat yang kami yakini lebih benar tentang wanita haid, ia diperbolehkan berdiam diri di dalam masjid selama aman dan tidak tercecer darah haidhnya. Boleh pula menyentuh dan membaca Al-Qur’an.
Pendapat inilah yang dikuatkan oleh Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu ta’ala.

Namun kami menganjurkan para wanita agar tidak melakukan aktifitas pendakian karena tempat terbaik bagi para wanita muslimah adalah di rumah, Allah ta’ala berfirman :

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ

“Dan hendaklah kamu tetap dirumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu”
(QS. Al Ahzab : 33).

Berkata Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat ini :
“Dan ini adalah adab serta sopan santun yang diperintahkan oleh Allah kepada istri-istri Nabi, dan wanita muslimah dari kalangan umat inipun juga harus mengikutinya di dalam adab-adab ini”
(Lihat: “Tafsir Al Qur’anil ‘adzim”, hal : 1496 oleh Al-Imam Ibnu katsir).

5) Larangan buang air kecil di gunung

Di beberapa gunung di Indonesia, gunung Ciremai diantaranya ada keyakinan kita tidak boleh buang air kecil atau buang air besar di tanah gunung tersebut. Jika dilanggar maka kita akan tersesat, celaka atau bahkan mati. Akibatnya tak jarang ditemukan botol-botol air mineral berisi air kencing yang berasal dari para pendaki.

Tentu hal ini merusak lingkungan dan yang lebih parah adalah merusak aqidah kita sebagai seorang muslim. Padahal selama buang air dilakukan dengan baik, selaras dengan syariat Islam dan tidak melanggar aturan di dalam agama.
Maka tidak mengapa buang air kecil di tanah gunung sebagaimana di tanah biasa. Berikut beberapa larangan agama berkaitan dengan buang air kecil :

a. Memilih lokasi yang sepi dari pandangan manusia.

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى سَفَرٍ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَأْتِى الْبَرَازَ حَتَّى يَتَغَيَّبَ فَلاَ يُرَى.

“Kami pernah safar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau tidak menunaikan hajatnya sampai beliau pergi ke tempat yang tidak kelihatan.”
(HR. Ibnu Majah 335, Ad-Darimi : 17, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

b. Membaca bismillah sebelum menyingkap aurat

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

سَتْرُ مَا بَيْنَ أَعْيُنِ الْجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِى آدَمَ إِذَا دَخَلَ أَحَدُهُمُ الْخَلاَءَ أَنْ يَقُولَ بِسْمِ اللَّهِ

“Penghalang antara pandangan jin dan aurat manusia adalah jika salah seorang di antara mereka memasuki tempat buang hajat, lalu ia ucapkan “Bismillah”.
(HR. Tirmidzi : 606 dan dishahihkan Al-Albani)

c. Tidak menghadap kiblat atau membelakanginya

Pada materi Volcano Ngaji yang pertama kami telah mencantumkan minimalnya dua cara alamiah dan ilmiyyah yang bisa kita lakukan untuk mengetahui arah kiblat. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا أَتَيْتُمُ الغَائِطَ فَلاَ تَسْتَقْبِلُوا القِبْلَةَ، وَلاَ تَسْتَدْبِرُوهَا وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا

“Apabila kalian buang hajat, janganlah menghadap atau membelakangi kiblat. Namun menghadaplah ke timur atau ke barat.”
(HR. Bukhari 394 dan Muslim 264).

Larangan ini khusus berlaku tatkala kita buang air di luar ruangan. Adapun di dalam ruangan tidak mengapa menghadap atau membelakangi kiblat, sebagai bentuk penggabungan dari beberapa riwayat yang ada dalam masalah ini, wallahu a’lam.

d. Bersuci dari najis

Baik dengan menggunakan air, batu dedaunan, tissue atau yang lainnya. Orang yang tidak bersuci dari najis di dunia rentan didekati dan diganggu oleh syaithan dan di alam barzakh ia terancam oleh siksa kubur.
Disebutkan dalam satu riwayat :

يُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، بَلَى، كَانَ أَحَدُهُمَا لاَ يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ، وَكَانَ الآخَرُ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ

“Mereka berdua disiksa. Mereka tidak disiksa untuk perkara yang berat ditinggalkan, namun itu perkara besar.
Yang pertama disiksa karena tidak hati-hati ketika kencing, yang kedua disiksa karena suka menyebarkan adu domba.”

(HR. Bukhari : 216).

Apabila adab-adab ini kita amalkan maka kita bisa melakukan aktifitas buang air kecil/besar dengan aman, damai, sentausa tak kurang suatu apa dan tidak ada hal yang perlu untuk kita risaukan insya’Allah.

6) Injak bumi tiga kali dan ucapkan salam

Ini adalah ritual bid’ah yang tidak ada asal-usulnya sama sekali di dalam agama kita.
Cukuplah bagi kita berdzikir kepada Allah ta’ala, meminta pertolongan hanya kepada Allah semata dan menjauhkan diri kita dari berbagai ritual klenik dan khurofat.
Nabi shalalahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

“Barangsiapa beramal dengan suatu amalan yang tidak ada padanya perintah kami, maka amalan itu tertolak.”
(Mukhtashar Shahih Muslim : 1237).

Bahkan penulis pernah beberapa kali membaca buku primbon berisi tata cara menguasai ilmu kesaktian yang berujung pada amalan dan ritual berbau syirik dan bid’ah.
Kemudian aplikasi dari ilmu tersebut dengan merapal mantra sembari menjejakkan kaki ke bumi tiga kali. Dan tidak diragukan sama sekali akan kebatilan cara-cara dukun serta hamba syaithan seperti ini.

7) Jin penguasa gunung

Tidak ada jin yang memiliki kemampuan menguasai gunung, atau memiliki kebijakan atas apa-apa yang terjadi di gunung. Gunung meletus itu tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan jin.

Di sebutkan dalam satu riwayat bahwa Allah telah mengamanahkan kepada malaikat khusus untuk menjaga gunung, simak kisah Nabi tatkala beliau ditanya oleh Aisyah radhiyallahu anha :

لَقَدْ لَقِيتُ مِنْ قَوْمِكِ مَا لَقِيتُ، وَكَانَ أَشَدَّ مَا لَقِيتُ مِنْهُمْ يَوْمَ العَقَبَةِ، إِذْ عَرَضْتُ نَفْسِي عَلَى ابْنِ عَبْدِ يَالِيلَ بْنِ عَبْدِ كُلاَلٍ، فَلَمْ يُجِبْنِي إِلَى مَا أَرَدْتُ، فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِي، فَلَمْ أَسْتَفِقْ إِلَّا وَأَنَا بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ فَرَفَعْتُ رَأْسِي، فَإِذَا أَنَا بِسَحَابَةٍ قَدْ أَظَلَّتْنِي، فَنَظَرْتُ فَإِذَا فِيهَا جِبْرِيلُ، فَنَادَانِي فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ، وَمَا رَدُّوا عَلَيْكَ، وَقَدْ بَعَثَ إِلَيْكَ مَلَكَ الجِبَالِ لِتَأْمُرَهُ بِمَا شِئْتَ فِيهِمْ، فَنَادَانِي مَلَكُ الجِبَالِ فَسَلَّمَ عَلَيَّ، ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، فَقَالَ، ذَلِكَ فِيمَا شِئْتَ، إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمُ الأَخْشَبَيْنِ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلاَبِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ، لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

Beliau ﷺ menjawab :
“Aku telah mengalami gangguan dari kaum-mu. Peristiwa yang paling berat kulalui adalah pada hari ‘Aqabah. Aku mendatangi Ibnu ‘Abdi Yaalail bin Abdi Kulal (untuk mendakwahinya), namun ia tidak menyambutku kepada apa yang aku kehendaki.

Akupun pergi dalam keadaan sangat sedih yang nampak di wajahku. Aku dalam kondisi tidak sadar hingga aku baru sadar ketika telah sampai di Qarn Ats-Tsa’âlib. Aku mengangkat kepalaku, dan tiba-tiba terlihat awan yang menaungiku.

Aku amati, dan muncullah Jibril di awan tersebut, lalu iapun berseru:
“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan dan penolakan kaummu kepadamu. Dan sungguh Allah telah mengutus malaikat penjaga gunung kepadamu untuk siap engkau perintah’ dengan apa yang engkau kehendaki berkaitan dengan kaummu”.

Malaikat penunggu gunung pun berseru kepadaku dan mengucapkan salam kepadaku, lalu ia berkata :
“Wahai, Muhammad!, terserah apa perintahmu kepadaku. Jika engkau mau, maka aku akan benturkan dua gunung ini di atas mereka”.

Maka Nabi berkata, “Bahkan aku berharap agar Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang beribadah kepada Allah semata dan tidak berbuat kesyirikan kepadaNya sama sekali”
(HR Muslim no. 4629)

8) Tanjakan cinta

Barangsiapa mendaki satu lokasi tanjakan yang terletak setelah melewati danau Ranu Kumbolo di lereng Gunung Semeru. Ia mendakinya sampai ke puncak tanpa menoleh ke belakang maka akan didekatkan jodohnya.

Ini adalah termasuk cerita khurafat, mengada-ada dan meruntuhkan daya nalar para pemilik akal jika sampai mempercayai cerita khurafat seperti ini.

9) Pasar setan

Klaim bahwa seseorang mampu mengetahui perkara ghaib, mengetahui pasar setan, istana mereka atau tempat-tempat mereka beraktifitas adalah klaim dusta. Karena Alla ta’ala menyatakan di dalam Al-Qur’an :

قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللهُ

“Katakan hai Muhammad! : tidak ada penduduk langit dan penduduk bumi yang mampu mengetahui perkara ghaib kecuali hanya Allah semata.”
(QS An-Naml : 65).

Disebutkan di dalam kitab Fathul Majid :

فنفى علم الغيب عمن سواه إلا إذا أراد شيئاً أن يظهره ورضي به أوحى حينئذ ذلك إلى من ارتضى من رسول معجزة له، فإذا علم ذلك ثم يأتي أحداً إلى كاهن أو عراف فسأله عن شيء فقال له كذا وكذا فصدقه فحينئذ كفر بما أنزل على محمد صلى الله عليه وسلم أي بالآيات لأن الإيمان باجتماع الضدين محال كالنور والظلمة.

“Ayat ini merupakan bentuk peniadaan pengetahuan akan keghaiban dari selain Allah, kecuali jika Allah menghendaki untuk menampakkan keghaiban itu dan ridha atasnya maka ketika itu Allah akan mewahyukan keghaiban kepada orang yang Allah ridhai dari kalangan rasul sebagai bentuk mu’jizat baginya.

Jika seseorang sudah memahami hal ini lalu datang kepada dukun atau tukang ramal dan mempercayai omongannya. Maka ketika itu ia tela kafir terhadap wahyu yang diturunkan kepada Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Maknanya ia kafir terhadap ayat-ayat, karena meyakini kemungkinan berkumpulnya dua hal yang saling bertentangan adalah satu hal yang mustahil.”
(fathul Majid : 1/238).

 

Disusun oleh:
Ustadz Abul Aswad al Bayati حفظه الله
(Dewan Konsultasi Bimbinganislam.com)



Ustadz Abul Aswad al Bayati, BA حفظه الله
Beliau adalah Alumni Mediu, Dewan konsultasi Bimbingan Islam, dan da’i di kota Klaten.
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abul Aswad al Bayati, BA حفظه الله
klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS