6 Hal Yang Mesti Diperhatikan Sebelum Amar Makruf Nahi Mungkar

6 Hal Yang Mesti Diperhatikan Sebelum Amar Makruf Nahi Mungkar

Inilah Enam Hal Yang Mesti Diperhatikan Sebelum Amar Makruf  Nahi Mungkar

Amar makruf  adalah memerintahkan orang lain untuk berbuat baik, dan nahi mungkar adalah melarang orang lain untuk berbuat kemungkaran. Ini adalah sebuah konsep dalam Islam agar umatnya tetap berada di atas kebaikan. Amar makruf nahi mungkar juga merupakan ibadah yang sangat agung dalam agama Islam.

Allāh ta’āla menyebutkan bahwa umat Islam adalah umat yang terbaik selama mereka melaksanakan amar makruf dan nahi mungkar. Allāh ta’āla berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allāh. (Ali Imran: 110)

Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam pernah menyampaikan permisalan bagaimana amar makruf & nahi mungkar ini menjaga umat tetap dalam kebaikan. Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits dari sahabat Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu,“Perumpamaan orang yang menegakkan hukum-hukum Allāh ta’āla dengan orang yang melanggarnya seperti kaum yang berada di atas kapal. Sebagian (penumpang) berada di atas dan sebagian yang lain di bawah. Penumpang bagian bawah jika ingin mengambil air melewati penumpang yang di atas. Suatu saat penumpang di bawah berkata: kalau kita lubangi kapal ini (untuk mengambil air), mungkin tidak mengganggu orang yang di atas. Jika mereka membiarkan saja orang yang mau melubangi kapal, maka semuanya akan hancur, tetapi jika dilarang, maka mereka semua selamat.” (HR Bukhari)

Namun, sebelum melangkah untuk melakukan amar makruf  dan nahi mungkar, ada beberapa perkara yang mesti kita perhatikan sehingga amar makruf  dan nahi mungkar yang kita lakukan benar-benar membawa manfaat bagi diri kita dan orang lain. Mari kita pelajari satu persatu:

Pertama: Pastikan Niat Anda Ikhlas

Ini hal pertama yang mesti diperhatikan. Pastikan niat kita untuk beramar makruf dan nahi mungkar adalah ikhlas karena Allāh ta’āla, bukan untuk meninggikan diri di hadapan orang demikian juga bukan untuk merendahkan orang lain. Keikhlasan niat ini sebuah perkara yang sangat penting dalam setiap amalan, karena setiap amalan diterima atau tidak oleh Allāh ta’āla tergantung niatnya.

Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Sesungguhnya segala amalan itu tidak lain tergantung pada niat; dan sesungguhnya tiap-tiap orang akan memperoleh balasan dari apa yang diniatkannya.” (HR Bukhari , Muslim)

Kedua: Pastikan Anda Paham

Ketika Anda beramar makruf (memerintahkan orang lain berbuat kebaikan), maka pastikan bahwa yang Anda perintahkan itu memang benar-benar hal yang makruf. Jangan sampai ternyata Anda memerintahkan sesuatu yang ternyata bukan sebuah kebaikan, bahkan mungkin sebuah dosa. Misalnya Anda memerintahkan seseorang untuk berpuasa padahal hari itu adalah hari raya, baik Idul Fitri ataupun Idul Adha, di mana di hari-hari tersebut justru tidak diperbolehkan berpuasa.

Demikian juga ketika Anda nahi mungkar(mencegah sebuah kemungkaran), pastikan bahwa yang Anda cegah dan Anda larang itu adalah sebuah kemungkaran. Jangan sampai Anda melarang orang melakukan sesuatu yang Anda anggap dilarang oleh syariat, padahal perbuatan tersebut ternyata hukumnya mubah.

Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan, “Yang menjadi kewajiban adalah jangan sampai Anda perintahkan sesuatu kecuali Anda paham betul bahwa yang Anda perintahkan itu adalah kebaikan. Jangan pula Anda melarang sesuatu kecuali Anda paham betul bahwa yang Anda larang itu adalah sebuah kemungkaran” (Syarah Riyadhus Shalihin 1/622).

Untuk bisa mengetahui dan membedakan hal yang makruf dan yang mungkar tentunya diperlukan ilmu. Karenanya orang yang ingin beramar makruf dan nahi mungkar perlu membekali dirinya terlebih dahulu dengan ilmu agama dan terus mempelajarinya.

Ketiga: Pastikan Bahwa Objek Anda Tepat

Seorang yang ingin memerintahkan orang lain berbuat kebaikan, perlu memastikan bahwa orang tersebut memang meninggalkan perbuatan baik yang semestinya dia lakukan, jangan sampai salah alamat. Misalnya seseorang melihat saudaranya sesama muslim makan di bulan Ramadhan, maka pastikan dulu bahwa orang ini memang sedang meninggalkan kewajiban Ramadhan tanpa udzur. Karena kalau dia memang punya alasan untuk tidak berpuasa, misalnya karena sakit, safar atau sedang haidh, maka tidak diperlukan amar makruf dalam kondisi seperti ini.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, ketika Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam sedang khutbah jum’at, ada seseorang yang masuk ke dalam masjid dan langsung duduk tanpa shalat tahiyatul masjid. Maka Nabi bertanya kepada orang ini, “Apakah kamu sudah shalat?”. Orang tersebut menjawab, “Belum”. Maka Nabi mengatakan kepadanya, “Berdirilah, shalatlah dulu dua rakaat!” Hadits ini menunjukkan bagaimana Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bertabayyun terlebih dahulu sebelum melakukan amar makruf nahi mungkar sehingga perintah beliau tepat sasaran.

Demikia pula seseorang yang ingin melarang orang lain dari kemungkaran, maka pastikan bahwa objek yang ingin dia larang memang sedang melakukan sebuah kemungkaran. Misalnya seseorang melihat seorang laki-laki berdua-duaan dengan seorang wanita, maka pastikan dulu bahwa memang dia berdua-duaan dengan wanita yang bukan mahramnya sehingga kemungkaran tersebut mesti dicegah. Jangan sampai ternyata orang tersebut adalah orang tuanya, adiknya atau kakaknya atau yang masih mahramnya.

Allāh ta’āla memerintahkan kita untuk menjauhi prasangka buruk dan di antaranya dengan bertabayyun.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. (al Hujurat: 12) 

Keempat: Pastikan Tidak Memunculkan Kemungkaran Lebih Besar

Khususnya ketika mencegah atau menghilangkan kemungkaran, Anda perlu memastikan bahwa tidak berefek terjadinya kemungkaran lain yang lebih besar. Misalnya ada orang yang duduk-duduk dengan Anda dalam keadaan merokok, namun jika Anda larang dan usir orang ini maka Anda tahu bahwa dia akan lari kemudian duduk-duduk dengan para pemabuk. Pada kondisi seperti ini, yang terbaik adalah mendiamkannya dan memperbaiki keadaannya dengan cara yang terbaik karena minum khamr dosanya lebih berat dari pada merokok.

Poin ini lebih membutuhkan ilmu dan hikmah daripada poin pertama, karena dalam poin ini terkandung pertimbangan yang perlu diperhatikan antara dua hal, yaitu madharat yang lebih kecil atau maslahat yang lebih besar. Maka pada kasus-kasus tertentu, sangat dibutuhkan peran ulama yang dalam ilmunya dan banyak pengalamannya untuk memutuskan apakah perlu beramar makruf nahi mungkar atau tidak.

Syaikh Ibnu Utsaimin menceritakan kisah amar makruf dan nahi mungkar kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Satu hari di Syam, Syaikhul Islam bersama sahabat-sahabatnya pernah melewati pasukan Tatar yang sedang mabuk-mabukan. Syaikhul Islam hanya melewatinya saja dan tidak melarang mereka minum khamr. Sahabatnya berkata, “Kenapa Anda tak larang mereka?”. Syaikhul Islam menjawab, “Andai kita larang mereka, mereka akan pergi menghancurkan kehormatan kaum muslimin dan merampas harta kaum muslimin. Ini lebih mudharat ketimbang mereka mabuk-mabukan”. Syaikhul Islam tidak melarang mereka mabuk-mabukan karena akan menimbulkan kemungkaran yang lebih besar, ini juga menunjukkan dalamnya ilmu beliau rahīmahullāhu. (Syarah Riyadhus Shalihin 1/624)

Kelima: Awali Dengan Kelemah lembutan

Kelemah lembutan adalah asal dalam dakwah dan beramar makruf nahi mungkar. Secara umum, manusia lebih mudah diingatkan jika dengan cara lemah lembut daripada diingatkan dengan cara yang kasar. Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إن الله رفيق يحب الرفق،  ويعطي على الرفق مالا يعطى على العنف

“Sesungguhnya Allāh itu Maha Lembut dan mencintai kelembutan. Allāh memberikan kepada kelembutan apa yang tidak Dia berikan pada sikap kasar. (HR Muslim)

Maka ketika kita mau mengingatkan orang untuk berbuat baik, ingatkan dengan lemah lembut. Ketika kita melarang orang dari kemungkaran, larang dengan lembut.

Keenam: Usahakan Bahwa Andapun Mengerjakan Kebaikan & Meninggalkan Kemungkaran

Walaupun pendapat yang terkuat bahwa orang yang memerintahkan kebaikan tidak diwajibkan mengerjakan kebaikan tersebut dan orang yang melarang kemungkaran tidak diwajibkan meninggalkan kemungkaran tersebut. Namun yang terbaik adalah jika Anda mengerjakan kebaikan yang Anda perintah dan meninggalkan kemungkaran yang Anda larang.

Boleh saja seseorang yang shalatnya belum baik menyuruh orang untuk shalat dengan baik. Boleh saja bagi seorang pemabuk melarang orang lain minum khamr. Namun tentunya amar makruf nahi mungkar yang dilakukan mereka akan kurang pengaruhnya. Boleh jadi orang yang diperintah atau dilarang akan berkata balik, “Kamu saja tidak mengerjakan hal tersebut”, atau “Kamu saja masih mengerjakan hal tersebut”.

Maka perlu diperhatikan bahwa ketika kita memerintahkan kebaikan, kita pun selayaknya melakukan kebaikan tersebut dengan baik. Demikian pula ketika kita melarang keburukan, kita pun selayaknya meninggalkan keburukan tersebut.

Demikianlah enam hal yang mesti diperhatikan sebelum kita beramar makruf nahi mungkar. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Wallāhu a’lam
Wabillahittaufiq.

Untuk mendapatkan faedah tentang hal yang sama klik

https://bimbinganislam.com/mengajak-kebaikan-tidak-harus-menjadi-ustadz/

https://bimbinganislam.com/beramar-ma-ruf-dengan-cara-yang-ma-ruf/

Referensi: Syarah Riyadhus Shalihin, Syaikh Ibnu Utsaimin 1/621-625

Ditulis Oleh:
Ustadz Amrullah Akadhinta حفظه الله
(Kontributor Bimbinganislam.com)



Ustadz Amrullah Akadhinta, ST.
Beliau adalah Sekretaris jenderal KIPMI, Direktur operasional BimbinganIslam (BiAS), Direktur TwitUlama, dan aktif di yayasan dan lembaga lainnya.
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Amrullah Akadhinta حفظه الله  
klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS