5 Petunjuk Nabi Dalam Merajut Ukhuwah (bagian 1)

5 Petunjuk Nabi Dalam Merajut Ukhuwah (bagian 1)

5 Petunjuk Nabi Dalam Merajut Ukhuwah (bagian 1)

Janganlah Berbuat Zhalim

Ukhuwah Islamiyah, salah satu konsep yang sangat penting sekaligus indah dalam Islam untuk menjaga kedamaian, persatuan, dan ketenangan dalam kehidupan bermasyarakat dan beragama. Terjaganya ukhuwah akan mendukung terjaganya ibadah dan menguatkan posisi umat Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan petunjuk kepada umatnya agar ukhuwah di antara umat Islam ini tetap terawat dengan baik. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

‏الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يُظْلِمُهُ، وَلَا يُسْلِمُهُ، مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيْهِ كَانَ اللهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ‏

“Seorang muslim itu saudara muslim yang lainnya, janganlah menzhaliminya, janganlah menyerahkannya pada musuh. Barang siapa yang memenuhi kebutuhan seorang muslim, Allah pun akan memenuhi kebutuhannya. Barang siapa melapangkan seorang muslim dari satu kesusahan, maka Allah akan melapangkannya dari kesusahan di hari kiamat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat.(HR. Al-Bukhari no. 2442 dan Muslim no. 2580)

Faedah Hadits

Dalam hadits tersebut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menekankan “Seorang muslim itu saudara muslim yang lainnya”. Kemudian beliau menyebutkan beberapa perkara yang berkaitan dengan persaudaraan Islam sehingga persaudaraan tersebut semakin kuat, terawat dan tidak terkoyak. Beberapa hal tersebut adalah:

[1]. Tidak menzhalimi sesama muslim
[2]. Tidak menyerahkan sesama muslim kepada musuh
[3]. Memenuhi hajat/kebutuhan sesama muslim
[4]. Melapangkan kesulitan sesama muslim
[5]. Menutup aib sesama muslim

Berikutnya, insya Allah akan kita bahas secara singkat satu persatu poin tersebut, semoga Allah menjaga ukhuwah kaum muslimin di mana pun dia berada.

Pertama, Tidak Menzhalimi Sesama Muslim

Zhalim adalah tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya. Kezhaliman adalah perbuatan yang diharamkan oleh Allah bahkan bukan hanya kepada seorang muslim. Kepada orang kafir pun kita dilarang untuk berbuat zhalim, bahkan kepada hewan, kepada tumbuhan dan seluruh ciptaan Allah kita dilarang berbuat zhalim. Allah berfirman dalam sebuah hadits Qudsi:

يَا عِبَادِيْ إِنِّـيْ حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَـى نَفْسِيْ، وَجَعَلْتُهُ بَيْنَـكُمْ مُحَرَّمًا؛ فَلاَ تَظَالَـمُوْا

Wahai hambaKu! Sesungguhnya aku mengharamkan kezhaliman atas diriKu dan Aku jadikan pula perbuatan zhalim itu haram kalian lakukan, maka janganlah kalian saling menzhalimi. (HR. Muslim no. 2577)

Dalam hadits lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kezhaliman yang mesti dihindari oleh setiap muslim terhadap muslim yang lainnya:

فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا 

“Sesungguhnya darah kalian, harta-harta kalian dan kehormatan kalian, adalah haram atas sesama kalian. Sebagaimana haramnya hari kalian ini (hari Arafah) di negeri kalian (negeri Mekkah) ini dan pada bulan kalian ini (bulan Dzulhijjah).” (HR. Al-Bukhari no. 1739)

Maka inilah 3 hal kezhaliman yang mesti dijauhi seorang muslim dengan muslim yang lainnya. Kezhaliman dalam masalah darah, misalnya menyakiti fisik seorang muslim baik sampai mengeluarkan darah atau tidak, dan yang paling besar adalah menghilangkan nyawa seorang muslim tanpa alasan yang dibenarkan. Kezhaliman dalam masalah harta, seperti tidak membayar hutang, mencuri atau menipu harta orang lain. Kezhaliman dalam masalah kehormatan, seperti menghina orang lain ataupun mengghibahi orang lain.

Tiga model kezhaliman ini, apabila dilakukan pada sesama muslim dapat dipastikan akan merusak ukhuwah. Yang dizhalimi akan merasakan kecewa dengan yang zhalim dan kemudian hubungan ukhuwah akan merenggang. Bahkan bukan tidak mungkin, rasa kecewa tersebut terbawa sampai hari kiamat sehingga yang dizhalimi menuntut yang berbuat zhalim sampai akhirnya dia bangkrut. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan dalam sebuah hadits bertanya kepada para sahabatnya:

أَتَدْرُوْنَ مَا الْمُفْلِسُ؟ قَالُوْا: الْمُفْلِسُ فِيْنَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ: إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ. فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ، أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

“Apakah kalian tahu siapa itu orang bangkrut?”. Para sahabat menjawab, “Menurut kami orang bangkrut itu orang yang tidak punya dirham dan tidak punya harta lagi”. Nabi bersabda, “Orang yang bangkrut dari kalangan umatku adalah mereka yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala sholat, puasa dan zakat. Namun datang pula orang lain yang menuntut bahwa dia telah menghina orang lain, telah menuduh orang lain, telah memakan harta orang lain, telah memukul orang lain. Maka orang lain tersebut diberikan pahala kebaikan-kebaikannya. Jika pahala kebaikannya habis sebelum dia melunasi dosa-dosanya, maka dosa-dosa orang yang dizhalimi tadi akan dilemparkan kepadanya, kemudian dia pun dilemparkan ke neraka.” (HR. Muslim no. 2581)

Bersambung klik disini….

Ditulis Oleh:
Ustadz Amrullah Akadhinta حفظه الله
(Kontributor Bimbinganislam.com)

 

 



Ustadz Amrullah Akadhinta حفظه الله
Beliau adalah Sekretaris jenderal KIPMI, direktur operasional BimbinganIslam (BiAS), direktur TwitUlama, dan aktif di yayasan dan lembaga lainnya.
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Amrullah Akadhinta حفظه الله  
klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS