5 Kumpulan Doa Untuk Ibu dan Orang Tua

Allah mewasiatkan orang tua untuk berbuat baik kepada anak-anaknya, sebagaimana Allah mewasiatkan anak-anak untuk berbuat baik dan berbakti kepada orang tuanya. Islam sendiri adalah agama yang memotivasi untuk mendoakan kedua orang tua, memohonkan ampun untuk mereka dan memintakan rahmat Allah untuk keduanya, doa untuk keduanya sangatlah bermanfaat baik ketika mereka masih hidup maupun sepeninggal mereka, doa juga merupakan diantara sebab kedua orang tua kelak diangkat derajatnya di sisi Allah ta’ala.

Dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan doa dan manfaat doa untuk kedua orang tua teramat banyak, diantaranya:

Firman Allah ta’ala:

وَٱخۡفِضۡ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحۡمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرۡحَمۡهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرٗا

“ Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil” (QS Al-Isra’ ; 24)

Sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam:

إذا مات الإنسان انقطع عمله إلا من ثلاثة: إلا من صدقةٍ جارية، أو علمٍ يُنتفع به، أو ولدٍ صالح يدعو له

“Jika seorang manusia wafat, maka semua amalannya akan terputus kecuali tiga perkara ; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat (bagi oranglain), dan doa anaknya yang shalih untuknya” (HR Muslim : 1631).

Juga sabda Beliau sallallahu alaihi wa sallam dalam hadist yang lain:

إن الرجل لترفع درجته في الجنة فيقول ؛ أنى هذا ؟ , فيقال : باستغفار ولدك لك

“Sesungguhnya ada seseorang yang diangkat derajatnya di surga, lalu ia berkata keheranan ; Kenapa (derajat saya diangkat) ?, maka dikatakan kepadanya : “Dengan sebab doa istighfarnya anakmu”. HR Ibnu Majah (3660)

Dan masih banyak dalil-dalil yang lain yang mengarahkan kita untuk mendoakan orang tua sebagai bentuk bakti kepada keduanya.

Namun perlu dicatat, pada permasalahan mendoakan ampunan untuk orang tua setelah wafat mereka, ini hanya berlaku bagi orang tua yang wafat dalam keadaan beriman, adapun yang wafat dalam kondisi kufur/ tidak beriman, kita dilarang untuk mendoakan mereka, sebagaimana firman Allah ta’ala:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَن يَسۡتَغۡفِرُواْ لِلۡمُشۡرِكِينَ وَلَوۡ كَانُوٓاْ أُوْلِي قُرۡبَىٰ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُمۡ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَحِيمِ

“Tidaklah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah para kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam” (At-taubah : 113).

Imam al-Nawawi rohimahullah mengatakan:

الصلاة على الكافر والدعاء له بالمغفرة : حرام بنص القرآن والإجماع) المجموع ( 5 / 119

“Mendoakan seorang yang kufur dan memintakan ampun untuknya hukumnya haram sebagaimana nash al-Quran dan konsensus ulama”. Al-Majmu’ 5/119

Adapun seseorang yang mempunyai orang tua yang ternyata tidak beriman, dan keduanya masih hidup, boleh bagi anaknya untuk mendoakan agar keduanya mendapatkan rahmat dan ampunan dari Allah ta’ala, sebagaimana perkataan Imam al-Qurtuby rohimahullah berikut:

وقد قال كثير من العلماء : لا بأس أن يدعوَ الرجل لأبويه الكافرين ويستغفر لهما ما داما حيَّيْن ، فأما من مات : فقد انقطع عنه الرجاء فلا يُدعى له .

تفسير القرطبي  8 / 274

“Banyak ulama berpendapat bahwa boleh bagi seorang mendoakan kedua orang tuanya yang kafir agar mendapatkan ampunan/maghfiroh selagi keduanya masih hidup, adapun ketika sudah meninggal, telah terputus harapan untuk mereka dan tidak boleh didoakan”. Tafsir al-Qurtubi 8/274

Namun, maksud dari mendoakan rahmat dan ampunan kepada ortu yang kafir selagi masih hidup, maknanya bukanlah memohonkan ampunan atas dosa kesyirikan atau kekufuran yang dikerjakan oleh ortu, juga bukan maksudnya memintakan rahmat untuk mereka padahal mereka dalam kondisi kafir, karena orang kafir tidaklah dirahmati, tapi maksud dari doa memohonkan rahmat dan maghfiroh tersebut adalah harapan terwujudnya sebab supaya mereka bisa diampuni dan dirahmati, yaitu mendoakan agar mereka bisa menerima islam dalam hati mereka, agar Allah melapangkan hati mereka untuk menerima islam, kemudian melafadzkan dua kalimat syahadat, begitu seperti penjelasan Syaikh Muhammad Solih al-Munajjid hafidzohullah.

Doa untuk Ibu dan Kedua Orang Tua

ibu memang memiliki keutamaan melebihi ayah, karena ibulah yang mengandung 9 bulan atau lebih, ia yang bersusah payah melahirkan mempertaruhkan nyawa, bahkan ia yang berjuang keras menyusuinya sampai masa penyapihan, juga bahkan pendidikan awal seorang anak sampai ia baligh mayoritas dihabiskan bersama ibunya, dari sebab itu maka islam menekankan keutamaan untuk ibu lebih banyak daripada keutamaan ayah, disebutkan dalam hadist Nabi sallallahu alaihi wa sallam berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dia berkata; “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata; “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “kemudian siapa lagi?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” dia menjawab: “Kemudian ayahmu.” H.R Bukhari No: 5514

Namun, sependek pengetahuan kami, doa yang dikhususkan untuk ibu yang ma’tsur atau bersumber dari al-Quran maupun al-Hadist belum kami dapatkan, karena rata-rata doa untuk ibu itu digabung dengan doa untuk ayah, jadi disatukan doa tersebut untuk keduanya, ketika seseorang mendoakan orang tuanya, doanya sepaket untuk kebaikan mereka berdua, dan berikut kami kutipkan beberapa doa yang bisa dipanjatkan yang bersumber dari dalil-dalil syari :

1. رَبَّنَا ٱغْفِرْ لِى وَلِوَٰلِدَىَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ ٱلْحِسَابُ

  1. Rabbanagfir lī wa liwālidayya wa lil-mu`minīna yauma yaqụmul-ḥisāb

“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”. Ibrahim:41

2. رَّبِّ ٱغْفِرْ لِى وَلِوَٰلِدَىَّ وَلِمَن دَخَلَ بَيْتِىَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ

2. Rabbigfir lī wa liwālidayya wa liman dakhala baitiya mu`minaw wa lil-mu`minīna wal-mu`mināt

“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Nuh: 28

3. رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَٰلِحًا تَرْضَىٰهُ

3. rabbi auzi’nī an asykura ni’matakallatī an’amta ‘alayya wa ‘alā wālidayya wa an a’mala ṣāliḥan tarḍāhu

“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai”. Al-Ahqaf:15

4. رَّبِّ ٱرْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًا

4. rabbir-ḥam-humā kamā rabbayānī ṣagīrā

“Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. Al-Isra:24

5. Kalaupun tidak menghafal doa-doa yang datang dari al-Quran seperti diatas, boleh berdoa apa saja untuk kebaikan dunia dan akhirat bagi orang tua, boleh menyusun kata sebisa dan semampunya, yang terpenting doa yang dipanjatkan tidak bertabrakan dengan sesuatu yang dilarang dalam syariat agama, disini kita mendapat kelonggaran, walaupun memang yang lebih afdol adalah berdoa seperti yang ada contohnya dari dalil.

Demikian yang bisa kami bawakan, semoga Allah selalu membimbing kita untuk bisa menjadi anak-anak yang berbakti kepada orang tua baik selagi mereka hidup walaupun selepas wafat mereka, dan semoga Allah merahmati dan mengampuni kita dan orang tua kita, semoga bermanfaat.

Disusun oleh:
Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله



Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Beliau adalah Alumnus S1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta dan S2 Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله  
klik disini