Keluarga

5 Hal Penting Ketika Ibu Ajak Tinggal Bersama Setelah Menikah

5 Hal Penting Ketika Ibu Ajak Tinggal Bersama Setelah Menikah

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan: 5 Hal Penting Ketika Ibu Ajak Tinggal Bersama Setelah Menikah. Selamat membaca.


Pertanyaan:

Bismillah.. Saya ingin bertanya ustadz, jika ada seorang lelaki setelah menikah, dia diminta ibunya untuk tinggal bersama ibunya, karena ibunya sekarang seorang diri, ayah dari laki-laki ini telah wafat. Mana yang sebaiknya dia pilih? Memenuhi permintaan untuk tinggal bersama ibunya atau mencari tempat tinggal terpisah yang dekat dengan ibunya untuk memenuhi hak tempat tinggal istri? Jazakumullahu khoiron ustadz atas jawabannya.

(Ditanyakan oleh Santri Mahad BIAS)


Jawaban:

Bismillah

1. Kewajiban anak berbakti kepada orang tua

Menjadi kewajiban seorang anak untuk mengabdikan dirinya kepada orang tuanya, baik ia seorang anak laki laki atau perempuan, sehingga orang tuanya lah yang menjadi pilihan pertama ketika tidak bisa digabungkan di antara dua kepentingan yang berbeda.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa … ” [an-Nisâ`/4:36].

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا ۖ وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا

Dan Kami wajibkan kepada manusia (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya …” [Al-‘Ankabût/29:8]

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: رِضَا الرَّبِّ فـِيْ رِضَا الْوَالِدِ وسَخَطُ الرَّبِّ فِـيْ سَخَطِ الْوَالِدِ

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhu,dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ridha Allâh tergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allâh tergantung kepada kemurkaan orang tua.” ( Hadits hasan, diriwayatkan oleh al-Bukhâri dalam al-Adabul Mufrad, no. 2)

2. Setelah menikah, yang harus paling ditaati perempuan adalah suaminya

Namun, bila ia seorang wanita dan telah menikah maka menjadi kewajibannya untuk mengabdikan dan mengutamakan suaminya selama tidak memerintahkan kepada kemaksiatan.

Sabda Rasulullah shallahu alaihi wasallam ketika beliau ditanya ., “Siapakah yang berhak terhadap seorang wanita? Rasulullah menjawab: “Suaminya” (apabila sudah menikah). Kemudian Aisyah Radhiyallahu ‘anha bertanya lagi: “Siapakah yang berhak terhadap seorang laki-laki? Rasulullah menjawab: “Ibunya,” (HR. Muslim).

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا طَاعَةَ لِأَحَدٍ فِـيْ مَعْصِيَةِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

Tidak boleh taat kepada seorang pun dalam berbuat maksiat kepada Allâh Azza wa Jalla ( Shahih: HR. Ahmad (5/66).

3. Suami istri, tahan ego masing-masing

Hendaknya, suami dan istri selalu melihat skala prioritas dari amalan yang akan dilakukan dan menundukkan egonya masing-masing demi menaati apa yang telah di tetapkan oleh Rabbnya. Seorang istri yang taat dan shalihah akan selalu mendahulukan ketaatan kepada Allah, rasulNya dan suaminya. Semestinya seorang istri akan selalu memotivasi dan mendukung suaminya untuk berbakti kepada orang tua suaminya terlebih lagi kepada ibunya. Ini juga salah satu bentuk pembejararan yang baik dan nyata kepada anak anaknya, untuk selalu menghargai dan berbakti kepada orang tuanya.

4. Suami harus memberikan pengertian kepada istrinya

Namun begitu, hendaknya seorang suami juga mencoba memberikan pengertian kepada istrinya dan mengkomunikasikannya dengan cara yang baik dan bijak, tidak dengan amarah dan memaksa. Bila perkara bisa digabungkan maka tentunya menjadi pilihan yang membahagiakan tanpa mengabaikan apa yang menjadi keinginan dan kebahagiaan istrinya. Semua butuh pengorbanan demi kebahagiaan dan pahala yang akan di dapat dari ketaatan hamba kepada agamanya.

5. Mencoba meminta ridho ibu

Atau bila ibunya ridho untuk mencari rumah di samping atau dekat dengan ibunya untuk kebaikan istri dan keluarganya, ini juga baik selama ibunya meridhoinya. Namun, bila ternyata ibunya bersikeras dan menjadi sedih bila tidak menjadi satu rumah dengan nya dan keluarganya atau dengan kata lain tidak tidak bisa di gabungkan bersama sama dua kepentingan tersebut maka hendaknya ia mendahulukan keridhoaan ibunya daripada kepentingan dirinya atau keluarganya. Wallahu a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Jumat, 1 Rabiul Awal 1443 H/ 8 Oktober 2021 M


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله 
klik disini

Baca Juga :  Apakah Anak Laki-laki Termasuk Mahrom?

USTADZ MU’TASIM, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button