4 Kaedah Syirkah Transaksional yang Harus diketahui oleh pengusaha
4 Kaedah Syirkah Transaksional yang Harus diketahui oleh pengusaha

4 Kaedah Syirkah Transaksional yang Harus diketahui oleh pengusaha

Pengertian syirkah transaksional

Syirkah transaksional dalam istilah fikih yaitu perserikatan antara dua orang atau lebih dalam modal dan usaha.

Macam-macam syirkah transasional

1. Syirkah ‘inan :
Perserikatan antara dua orang dalam modal, usaha dan keuntungan.
Contoh: Dua orang berserikat membuka usaha sebuah toko, modal berasal dari mereka berdua, dengan kesepakatan salah satu dari mereka menjaga toko di pagi hari dan satunya di sore hari.

2. Syirkah mudharabah :
Kerjasama antara dua orang yang mana salah satu pihak memberikan modal dan pihak lainnya mengurusi jalannya usaha dan persentase keuntungan sesuai dengan kesepakatan.
Contoh: A memberikan modal 100 juta kepada B untuk dikelola, lalu keuntungan dibagi masing-masing 50%.

3. Syirkah wujuh :
Kerjasama antar dua orang hanya dengan modal nama baik mereka, tanpa modal dana di awal. Sehingga mereka bisa mengambil barang dari produsen dengan cara berhutang, lalu menjual kembali barang tersebut di pasar, dan keuntungan dibagi antara mereka berdua sesuai kesepakatan.

4. Syirkah usaha (abdan/a’mal) :
Kerjasama antara dua orang dengan modal badan atau tenaga mereka, lalu keuntungan dibagi sesuai dengan kesepakatan. Seperti: dua orang nelayan yang bekerjasama yang mana ikan hasil tangkapan mereka dikumpulkan lalu dijual, lalu keuntungannya dibagi sesuai kesepakatan.

Kaedah-kaedah fikih dalam bab syirkah:

Kaedah Pertama :
Persentase kepemilikan usaha dan keuntungan dibagi sesuai dengan kesepakatan bersama, sedangkan kerugian ditanggung pemilik dana.

Tidak ada aturan khusus dalam penentuan berapa besar keuntungan dan persentase kepemilikan bagi setiap individu yang terlibat dalam sebuah syarikah, semuanya dikembalikan kepada kesepakatan bersama. Bisa jadi si A memiliki 30% dari usaha tersebut dan si B memiliki 70% atau kebalikannya, begitu pula halnya keuntungan yang diterima oleh kedua belah pihak, ini semua dikembalikan kepada kesepakatan awal.

Sedangkan kerugian ditanggung oleh pemodal sesuai dengan modal yang ia berikan pada usaha tersebut. Misalkan dalam akad mudharabah, maka yang menanggung kerugian harta hanyalah pemilik dana, adapun pengelola dia hanya menanggung rugi atas tenaga yang dikeluarkan, kecuali jika pengelola tidak menjalankan amanah dengan baik barulah dia wajib mengganti kerugian usaha karena keteledorannya dalam menjalankan amanah usaha.

Dari sini kita bisa menilai hukum akad mudharabah yang disyaratkan di awal bahwa pemodal atau pemilik dana tidak akan mengalami kerugian, seperti yang biasanya dipraktekan di bank-bank yang mengaku syariah. Karena adanya jaminan ketidakrugian akan merubah akad tersebut menjadi akad pinjaman (qardh). Sedangkan akad pinjaman tidak boleh mendatangkan keuntungan bagi pemilik dana, para ulama telah bersepakat tentang sebuah kaedah:

كل قرض جر نفعا فهو الربا

“Setiap pinjaman yang mendatangkan keuntungan adalah riba.”

Kaedah kedua:
Keuntungan tidak boleh ditetapkan dengan nominal tertentu.

Keuntungan hanya boleh ditentukan dengan persentase bukan nominal tertentu, sebab jika keuntungan ditentukan dengan nominal akan membuat ada modal yang terjamin sehingga akad berubah menjadi akad pinjaman berbunga (riba).
Misalkan jika keuntungan ditetapkan untuk si A sebesar 50.000.000 setiap bulannya, maka berapapun keuntungan yang didapatkan si A menerima 50.000.000, jika keuntungan kecil tentu si B lah yang akan menanggung pembayaran keuntungan si A. Penjaminan tersebut merubah akad mudharabah menjadi akad pinjaman, dan pinjaman jika mendatangkan keuntungan maka berbuah riba.

Disebutkan dalam keputusan majma’ fikih islamy di rabithah ‘alam islamy no. 79 (5/14):

أنه لا يجوز في المضاربة أن يحدد المضارب لرب المال مقدارًا معينًا من المال، لأن هذا يتنافى مع حقيقة المضاربة، ولأنه يجعلها قرضًا بفائدة، ولأن الربح قد لا يزيد على ما جعل لرب المال فيستأثر به كله، وقد تخسر المضاربة، أو يكون الربح أقل مما جعل لرب المال، فيغرم المضارب. والفرق الجوهري، الذي يفصل بين المضاربة والقرض بفائدة- الذي تمارسه البنوك الربوية- هو أن المال في يد المضارب أمانة، لا يضمنه إلاّ إذا تعدى أو قصر

“Tidak diperbolehkan dalam akad mudharabah untuk menetapkan nominal tertentu yang diberikan kepada pemilik dana, karena ini bertentangan dengan hakikat mudharabah, dan itu menjadikan akad tersebut pinjaman berbunga (riba), dan karena keuntungan mungkin saja hanya mencapai nominal yang telah ditetapkan tersebut, sehingga semua keuntungan diberikan kepada pemilik dana, dan bisa saja usaha tersebut mengalami kerugian atau keuntungan lebih kecil dari nominal yang telah ditetapkan, sehingga pengelola mengalami kerugian.
Dan perbedaan yang sangat jelas antara mudharabah dan pinjaman berbunga –yang biasa dipraktekan oleh bank ribawi- adalah bahwa harta yang ada pada pengelola adalah amanah, bukan harta terjamin kecuali jika pengelola lalai dalam menjalankan amanah tersebut.”

Kaedah ketiga:
Tidak diperbolehkan adanya jaminan keuntungan ataupun jaminan tidak akan mengalami kerugian.

Karena jaminan keuntungan atau jaminan kepada pihak lain tidak akan mengalami kerugian akan mengeluarkan transaksi tersebut dari yang diperbolehkan menjadi pinjaman mendatangkan manfaat atau riba.
Contoh: Apabila A dan B melakukan kerjasama dalam sebuah usaha, lalu A mengatakan kepada B bahwa modal B akan terjamin atau akan selalu mendapatkan keuntungan 30% sekalipun perusahaan mengalami kerugian. Dan inilah yang masih terjadi dalam akad nasabah dengan bank.

Kaedah keempat:
Dana yang berada ditangan pengelola (mudharib) adalah amanah, sehingga tidak ada jaminan kerugian kecuali jika pengelola melakukan kelalaian.

Jika terjadi kerugian dalam sebuah usaha yang dibangun di atas akad mudharabah, maka yang menanggung kerugian adalah pemilik dana/pemodal, sedangkan pengelola hanya mengalami rugi tenaga selama usaha. Tidak boleh pemilik modal menuntut ganti rugi kepada pengelola, kecuali dia bisa membuktikan bahwa pengelola melakukan kelalaian dalam usahanya.

(Disarikan dari kitab Fikih Mu’amalat Maliyyah mu’ashirah karya syaikh Prof. DR. Sa’ad Khotslan hal. 35 – 40)

Ditulis oleh:
Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله
(Kontributor bimbinganislam.com)



Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى 
klik disini