4 Adab Kepada Orang tua, Semasa Hidupnya dan Sepeninggalnya bimbingan islam
4 Adab Kepada Orang tua, Semasa Hidupnya dan Sepeninggalnya bimbingan islam

4 Adab Kepada Orang tua, Semasa Hidupnya dan Sepeninggalnya

Ikhwatal Iman Ahabbakumulloh, saudara saudariku sekalian yang mencintai Sunnah dan dicintai oleh Alloh ‘Azza wa Jalla.. Orangtua adalah Mutiara dalam kehidupan kita, banyak sekali ayat Al-Quran yang membahas tentang kewajban bakti pada orangtua. Dan dengan banyaknya dalil tersebut ada satu hal yang harus digarisbawahi, yakni adab kepada orangtua bukanlah hukum sebab akibat, tapi perintah langsung dari Alloh.
Tidak peduli bagaimana keadaan dan masa lalu orangtua kita, baik atau buruk, tanggung jawab atau tidak, peduli atau cuek, bakti kepada mereka tidak akan gugur. Jangan dianggap kita wajib berbakti ketika orangtua sayang saja, ketika orangtua sabar saja, atau ketika sering membelikan hadiah saja, karena memang berbakti pada orangtua bukanlah hukum sebab akibat. Bahkan Alloh telah mengaitkan kewajiban bakti kepada mereka setahap setelah kewajiban utama seorang hamba, yakni mentauhidkan Alloh ‘Azza wa Jalla

وَٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡ‍ٔٗاۖ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنٗا

“Sembahlah Alloh dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah pada kedua orangtua”
(QS An-Nisaa 36]

قُلۡ تَعَالَوۡاْ أَتۡلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمۡ عَلَيۡكُمۡۖ أَلَّا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡ‍ٔٗاۖ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنٗاۖ

“Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, dan berbuat baiklah pada kedua orangtua”
(QS Al-An’am 151)

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنًاۚ

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan berbuat baiklah pada kedua orangtua”
(QS Al-Israa 23)

Dipenghujung surat Al-Israa ayat 23 diatas Alloh juga langsung memberikan contoh kasus perihal adab berbicara pada orangtua

إِمَّا يَبۡلُغَنَّ عِندَكَ ٱلۡكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوۡ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفّٖ وَلَا تَنۡهَرۡهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوۡلٗا كَرِيمٗا

“Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka serta ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia
(QS Al-Isra 23)

Ibnu Katsir ketika menjelaskan ayat diatas mengatakan

أي لا تسمعهما قولا سيئا حتى ولا التأفيف الذي هو أدنى مراتب القول السيئ

“Maksudnya jangan memperdengarkan kepada orang tua perkataan yang buruk. Bahkan sekedar ‘Ah’ yang ini merupakan tingkatan terendah dari perkataan yang buruk”
(Tafsir Ibnu Katsir)

Lebih dari itu, perintah berbakti pada orangtua sejatinya bukan hanya ajaran Islam, Alloh pun telah mengambil perjanjian dengan Bani Isroil untuk berbuat baik pada orangtua, sayangnya sebagian besar dari mereka berpaling dan tidak memenuhi janji itu

وَإِذۡ أَخَذۡنَا مِيثَٰقَ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ لَا تَعۡبُدُونَ إِلَّا ٱللَّهَ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَانٗا وَذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَقُولُواْ لِلنَّاسِ حُسۡنٗا وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ ثُمَّ تَوَلَّيۡتُمۡ إِلَّا قَلِيلٗا مِّنكُمۡ وَأَنتُم مُّعۡرِضُونَ

“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling”
(QS Al-Baqoroh 83)

Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam juga mengabarkan bagaimana kedudukan orangtua dalam kehidupan kita di dunia maupun di akhirat,

الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوِ احْفَظْهُ

“Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa menjaganya”
[HR Tirmidzi 1822, Ibnu Majah 3563 dan Ahmad 26272]

Adapula Hadits yang membahas tentang komparasi dan tingkatan antara bakti pada orangtua dengan amal sholih lainnya, yakni Hadits Abdulloh bin Mas’ud rodhiallohu ‘anhu ketika beliau bertanya kepada Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam; Amalan apa yang paling dicintai Alloh? Lalu Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam mengatakan

قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Sholat tepat pada waktunya”,
Abdulloh bin Mas’ud bertanya lagi; “Kemudian apa?”
Beliau sholallohu ‘alaihi wasallam menjawab: “Berbakti kepada kedua orang tua”
Abdulloh bin Mas’ud bertanya; “Kemudian apa lagi?”,
Beliau sholallohu ‘alaihi wasallam menjawab: “Berjuang (Jihad) di jalan Alloh”
[HR Bukhori 5513]

Bakti pada orangtua atau Birrul Walidain yang disebutkan dalam Hadits diatas lebih tinggi kedudukannya dibanding Jihad, alias lebih didahulukan dibanding Jihad, padahal kita tahu bahwa Jihad adalah puncak perkara didalam Islam.

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ

“Pokok segala perkara adalah Islam, tiang-tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad”
[HR Tirmidzi 2616 dan Ibnu Majah 3973]

Bagaimana maksudnya? Apakah Jihad memang kedudukannya lebih rendah dibanding Birrul Walidain? Hal ini perlu dirinci, Jihad yang sifatnya Fardhu ‘Ain kedudukannya tetap lebih tinggi dibanding Birrul Walidain sebagaimana Hadits riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah diatas, adapun Jihad yang sifatnya Fardhu Kifayah maka Birrul Walidain-lah yang lebih tinggi kedudukannya.

Sama halnya dengan menuntut Ilmu, jika Ilmu itu tentang Mentauhidkan Alloh, tentang Fiqih Ibadah Tatacara Sholat, atau hal-hal lain yang sifatnya mendesak maka menuntut Ilmu yang demikian lebih didahulukan dibanding Birrul Walidain. Sementara menuntut Ilmu yang sifatnya tidak mendesak, seperti tentang Waris padahal dia tidak punya Waris, atau tentang Haji padahal dia belum mau Haji, maka yang demikian ini Birrul Walidain-lah yang harus lebih didahulukan

Sebagai penjabaran, Insya Alloh akan kita bagi adab kepada orangtua menjadi 2 bahasan, semasa hidupnya dan sepeninggalnya.

Adab kepada orangtua saat masih hidup

Banyak sekali macam dan contoh adab kepada orangtua semasa hidupnya, namun garis besarnya adalah 3 hal berikut ini

1. Ketaatan

Menaati keduanya baik dalam hal perintah ataupun larangan, selama tidak termasuk perbuatan maksiat kepada Alloh. Sebab tidak ada ketaatan kepada Makhluk dalam hal bermaksiat kepada Khloliq.

وَإِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٞ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ وَصَاحِبۡهُمَا فِي ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفٗاۖ

“Dan jika keduanya (orangtua) memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik”
(QS Luqman 15)

Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

”Tidak ada ketaatan di dalam maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang ma’ruf”
[HR Bukhori 6716, Muslim 3424].

Perkara yang ma’ruf didefinisikan oleh Syeikh As-Sa’diy:

المعروف : الإحسان والطاعة وكل ما عرف في الشرع والعقل حسنه

“Al-Ma’ruf artinya perbuatan kebaikan dan perbuatan ketaatan dan semua yang diketahui baiknya oleh syariat dan oleh akal sehat”
(Tafsir As Sa’di, 1/194-196).

2. Penghormatan

Menghormati atau mengagungkan keduanya, memuliakan keduanya dengan perkataan maupun perbuatan, seperti tidak mengangkat suara (berbicara lebih keras) dari suara keduanya, mendahulukan keduanya (bagi laki-laki) daripada istri dan anaknya, tidak bepergian dari rumah kecuali dengan izin dan ridho dari keduanya. Diantara dalilnya adalah kebiasaan para sahabat,

وإذا تكَلَّمَ خَفَضُوا أصواتَهم عندَه وما يُحِدُّون إليه النظرَتعظيمًا له

“Jika para sahabat berbicara dengan Rosululloh, mereka merendahkan suara mereka dan mereka tidak memandang tajam sebagai bentuk pengagungan terhadap Beliau sholallohu ‘alaihi wasallam”
[HR Bukhori 2529].

Inilah yang dilakukan oleh para sahabat di hadapan Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam yang mereka hormati seperti orang tua mereka.

Juga apa yang dilakukan Ibnu Umar rodhiallohu ‘anhuma dengan tidak mendahulukan perkataannya jika ada yang lebih tua umurnya dibanding dirinya ,

كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأُتِيَ بِجُمَّارٍ فَقَالَ إِنَّ مِنْ الشَّجَرِ شَجَرَةً مَثَلُهَا كَمَثَلِ الْمُسْلِمِ فَأَرَدْتُ أَنْ أَقُولَ هِيَ النَّخْلَةُ فَإِذَا أَنَا أَصْغَرُ الْقَوْمِ فَسَكَتُّ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هِيَ النَّخْلَةُ

‘Kami pernah bersama Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam, lalu Beliau dipertemukan dengan jama’ah (sekelompok orang). Kemudian Beliau bersabda: “Sesungguhnya diantara pohon ada suatu pohon yang merupakan perumpamaan bagi seorang muslim”,
Aku ingin mengatakan bahwa itu adalah pohon kurma namun karena aku yang termuda maka aku diam. Lalu Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Itu adalah pohon kurma”

[HR Bukhori 70, Muslim 5027, Ahmad 4371]

Lihatlah bagaimana sikap Ibnu Umar rodhiallohu anhu yang menahan diri untuk tidak berbicara, padahal sebenarnya Ibnu ‘Umar mampu ketika itu, tidak diragukan lagi demikianlah seharusnya kita bersikap dihadapan orang tua.

3. Pelayanan

Berbakti pada keduanya dengan segala bentuk kebaikan yang bisa dilakukannya, baik itu pelayanan berupa pemenuhan kebutuhan makanan atau pakaian, juga perlindungan dari segala yang bisa membahayakan dunia akhiratnya.

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzhaliminya dan tidak membiarkannya untuk disakiti. Siapa yang membantu kebutuhan saudaranya maka Alloh akan membantu kebutuhannya. Siapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Alloh menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan hari qiyamat. Dan siapa yang menutupi aib seorang muslim maka Alloh akan menutup aibnya pada hari qiyamat”
[HR Bukhori 2262]

Jika pemenuhan kebutuhan pada saudara saja memiliki ganjaran yang besar, apalagi jika pada orangtua. Karenanya ketika membahas tentang peruntukan harta, Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam mengatakan

ابْدَأْ بِنَفْسِكَ فَتَصَدَّقْ عَلَيْهَا ، فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ فَلِأَهْلِكَ ، فَإِنْ فَضَلَ عَنْ أَهْلِكَ شَيْءٌ فَلِذِي قَرَابَتِكَ

“Manfaatkanlah untuk dirimu sendiri, bila ada sisanya maka untuk keluargamu, jika masih tersisa, maka untuk kerabatmu, dan jika masih tersisa, maka untuk orang-orang di sekitarmu”
[HR Muslim 1663]

Sungguh, orangtua adalah orang yang paling berhak untuk dipenuhi kebutuhannya setelah diri sendiri dan keluarga, terlebih jika orangtua keadaannya tidak mampu dan anaknya mampu.

Adab kepada orangtua setelah meninggal

Adapun adab sepeninggal orangtua, rujukan dalilnya adalah Hadits dari Abu Usaid rodhiallohu ‘anhu, ketika menceritakan seorang laki-laki dari golongan Anshor yang datang dan bertanya; “Wahai Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam, apakah masih tersisa kewajiban atasku untuk berbuat baik kepada orang tuaku setelah kematian mereka berdua?”, Beliau sholallohu ‘alaihi wasallam menjawab;

نَعَمْ خِصَالٌ أَرْبَعَةٌ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا رَحِمَ لَكَ إِلَّا مِنْ قِبَلِهِمَا فَهُوَ الَّذِي بَقِيَ عَلَيْكَ مِنْ بِرِّهِمَا بَعْدَ مَوْتِهِمَا

“Ya, masih tersisa empat perkara yaitu: mendoakan untuk mereka berdua, meminta ampunan mereka, memenuhi janji mereka yang belum terselesaikan dan memuliakan teman teman mereka serta silaturrahim yang sebenarnya tidak berhubungan dengan kamu kecuali dari jalur mereka. Itulah semua yang tersisa dari kewajibanmu untuk berbuat kebaikan kepada orang tuamu setelah mereka meninggal”
[HR Ahmad 15479, Abu Daud 4476 dan Ibnu Majah 3654]

Dari 4 hal yang tersebut diatas,
1. Mendoakan orangtua
2. Meminta ampunan untuk orangtua
3. Memenuhi janji orangtua
4. Memuliakan teman-teman orangtua dengan bersilaturrohim kepada mereka

Poin terakhirlah yang paling sering dilewatkan, sementara 3 poin pertama biasanya menjadi kewajiban yang mudah diingat karena keluarga dan anak-anaknya akan saling mengingatkan satu sama lain.

Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam mengabarkan pada kita tentang keistimewaan poin terakhir agar tidak meremehkannya

إِنَّ أَبَرَّ الْبِرِّ صِلَةُ الْوَلَدِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ

“Sejatinya sebaik-baik bentuk bakti (berbuat baik) adalah seseorang menyambung hubungan dengan keluarga dari kenalan baik ayahnya”
[HR Muslim 2552]

Semoga kita semua tercatat sebagai anak yang beradab kepada orangtua, sehingga kelak anak-anak kita pun semakin beradab kepada kita

Semoga bermanfaat, Wallahu A’lam Bisshowab.

Ditulis oleh:
Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
Selasa, 25 Shafar 1441 H/ 13 Oktober 2020 M



Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI IMAM SYAFI’I Kulliyyatul Hadits, dan Dewan konsultasi Bimbingan Islam,
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله  
klik disini